Archive for the ‘Review Buku’ Category

Review dari Petrus Suparyanto, FIC – Yogyakarta

No Comments »

December 16th, 2009 Posted 7:22 am

Mbak Lin…
Buku My Life … dah hampir habis untuk lalapan… Kesanku…nano-nano. Panulisnya seorang person yang bebas… merdeka. Jiwa petualangan ato avonturnya hebat. Ngotot klo dah prinsip… meski kayaknya gak punya otot beneran… he he he.
Selalu cari alternatif… paling tidak mulai dengan pikiran… gagasan liar. Seru deh! Saru dikit untuk bumbu!

Itu semua tercermin dalam dua putra-putri… anak-anak yang merdeka.

Bener-bener … exiting… inspiring… TQ. Juga atas samperannya.

Petrus Suparyanto, FIC
Yogyakarta

Review dari Femikhirana, Surabaya

2 Comments »

October 13th, 2009 Posted 9:29 am

Saya melalap buku ini dalam waktu tidak lebih dari 24 jam. Terbukti aliran kisahnya yang nyaman dibaca dan selalu membuat penasaran sehingga enak dicerna. Dari sekian banyak nilai-nilai kehidupan yang dibahas membuat saya berkesimpulan : Ternyata untuk menjadi manusia normal dengan norma yang normal saja memang sulit dan harus diperjuangkan. Memang di dunia ini, terlalu penuh dengan mereka yang disorientasi terhadap kehidupan. Tuhan memberkatimu, teman. Dan jangan berputus asa dengan perjuangan selanjutnya bersama-Nya.

Femikhirana
Surabaya

Review dari Melanie Anie, Jakarta

1 Comment »

August 28th, 2009 Posted 1:01 pm

aku jadi semakin yakin kepahitan hidup yang Tuhan kasih dulu, adalah pelajaran yg sangat berarti..
yang menjadikan kita seperti sekarang ini..
kuat dan mandiri..
Walaupun aku merasa berbeda dengan org lain , terutama perasaanku tentang suatu hal..
semua bisa jadi kelebihan dan kekurangan aku..
so poin yg aku ambil dr My life is an open book :

Tak perlu menyesali apapun yg Tuhan telah kasih untuk kita, meski smuanya menyakitkan, coz I believe that He has made everything beautifull in it’s time….

Melanie Anie
Jakarta

Review dari Fonny Jodikin, Singapore

No Comments »

August 25th, 2009 Posted 11:08 pm

Sore itu saya bertemu Lini.

Sekalian kopi darat, setelah sebelumnya hanya bertemu via dunia maya. Dan saat itu pula, saya mendapatkan buku My Life is an Open Book yang selesai dibaca dalam sehari.

Bagi saya, buku itu sangat jujur. Sangat terbuka. Sama terbukanya dengan Lini yang ada di hadapan saya sore itu. Sama terbukanya dengan Lini yang memberikan informasi tanpa pelit atau simpan sendiri via email terhadap pertanyaan saya, padahal saya hanya orang asing.

Sebagai orang asing yang tak kenal Lini, mungkin akan terperangah melihat keberaniannya untuk bicara jujur. Tetapi, jujur memang terkadang menyakitkan, dan itu yang dia bisa lakukan, ‘out of the box’, tampil beda dari pandangan orang banyak.

Dari buku itu saya belajar banyak soal relasi. Saya juga melihat Lini dan keluarga (suami dan anak-anak), menjadi keluarga yang kompak, apa adanya, dari perjuangan mengatasi permasalahan yang ada. Tiap keluarga punya masalahnya masing-masing, namun dari bukunya Lini, saya belajar untuk berusaha hidup lebih baik lagi. Bukan dengan kehebatan, tapi dengan kesederhanaan, meskipun dalam keterbatasan.

Saya suka tulisanmu, terus menulis ya, Lin… :)

Love,
Fonny Jodikin
Singapore

Review dari Andy Gandha, Los Angeles

No Comments »

August 24th, 2009 Posted 11:56 am

Hi Lini. saya sudah selesai bacanya. Sungguh menarik isi ceritanya. Saya ngga sangka kalau kamu yang baru menjadi katholik beberapa tahun aja bisa mempunyai nalar yang melebihi mereka2 yang dibabtis sejak lahir dalam hal mengenal Bapa disurga.

Terus nulis ya, suatu saat akan tiba saatnya kau peroleh hasil dari jerih payahmu selama ini. Tuhan tau kapan DIA berikan berkat NYA kepada mereka yang membutuhkan.

Andy Gandha
Los Angeles

Review dari Rini Giri, Bekasi

No Comments »

August 19th, 2009 Posted 3:36 pm

LINI HANAFIAH? My Life is an open book? Secara fisik terlihat rapuh, tapi tahukah kamu bahwa dia seorang pendobrak ulung? Badanku lebih besar dan lebih “pothok”, tapi tak seberani dia untuk ambil resiko dan keluar dari pakem yang ada. “…;Go outside the box, Rin!” Mungkin aku gak sekuat kamu, Lin. Kita begitu beda, tapi itulah kenapa aku tertarik untuk mengenalmu. Justru karena beda, kita bisa saling bagi tawa dan saling ngetawain. Aku udah baca separo bukumu dan kuhabiskan hanya semalam. Saking semangatnya. Ringan dalam tutur tapi menohok dalam ke ulu hati. Betapa kaya aku bisa mengenalmu, Lini. GBU.

Lin, bukumu udah selesai kubaca. Aku setuju untuk memaafkan tanpa harus mengubah seseorang. Aku dulu juga pernah gak ngomong sama bapakku selama 3bulan bulat karena beda prinsip dan pendapat. Tapi setelah jadi ibu begini, aku sadar, orangtua kadang m…emang merasa memiliki anak sebagai hartanya. Sebagai miliknya yang harus ikut total pada cara dia memberi kasih sayang. Ya, sudah….kita yang lebih muda memang harus yang ngalah. Dua kuping kita masih lebih peka untuk mendengar mereka. Makasih banyak, Lin. GBU. Salam dan doa buat Yla dan Friel.Juga Si Ayah-mu.

Rini Giri
Bekasi

Keberanian Membuka Aib Demi Menebar Hikmah

No Comments »

June 11th, 2009 Posted 7:56 am

judul buku: My Life is an Open Book
penulis: Lini G. Hanafiah

Perlu keberanian untuk membuat sebuah buku yang berpotensi membuka aib masa lalu, tidak saja tentang dirinya, tapi juga tentang keluarganya. Namun, tentu penulis tak bermaksud mengumbar aib. Dalam my life is an open book, ia cuma ingin berbagi sebab-sebab kenapa ia jadi seperti ini. Seperti sekarang ini. Baik dianggap menjadi buruk maupun dianggap jadi lebih mulia.

Perlu keberanian pula untuk membuat buku yang menceritakan salah satu episode kehidupannya yang paling monumental: pindah agama. Praktis, sedemikian rupa, ia menjaga jarak dengan teman-teman seagamanya yang lama. Meski di satu sisi ia akan mendapat sambutan hangat dari teman-teman seagamanya yang sekarang, termasuk untuk membeli bukunya, baik karena tertarik isinya, ataupun karena empati terhadap ’saudara’ barunya, si penulis.

Saya rasa, perlu keberanian pula membuat komentar atas buku ini. Karena, ya itu tadi, ada episode pindah agama; yang bagi bangsa timur seperti Indonesia masih dianggap isu besar dalam hubungan sosial. Lagipula, keberanian si penulis untuk menerbitkan bukunya secara mandiri, dengan bantuan teman-teman lama dan barunya, perlu dihadiahi keberanian mengomentarinya. Menerbitkan buku sendiri bukanlah ide yang setiap hari muncul bagi orang dengan tingkat ekonomi rata-rata, seperti penulis.

Selain itu, memang sudah lama saya ingin mengomentari buku ini. Namun, sebelum hari ini, saya tak kunjung dapat memutuskan sudut pandang komentar. Tak mungkinlah hati saya terbebas murni dari subjektivitas; saya juga beragama; saya juga temannya.

Untunglah, penulis tak sedikit pun menjelekkan agama yang ditinggalkannya, atau memuja-muja agama yang dianutnya sekarang; yang dapat menjerumuskan buku ini menjadi syiar yang verbal. Tampaknya ia tahu risiko dari tak berhati-hati memaparkannya itu. Lagipula, buku ini tak ”sedangkal” hanya bicara pindah agama. Banyak juga narasi tentang bertahan hidup tanpa harus jadi binatang; salah satunya. Tapi, saya tak hendak membuat resensi, hanya komentar, seperti janji saya di atas. Sedikit komentar.

Hanya satu, kejujuran penulis perlu mendapat apresiasi. Ia menceritakan berbagai episode kehidupannya, dari yang buruk, yang baik, yang tragis, sampai yang jenaka apa adanya, tidak tampak tendensius. Yang (secara tergesa bisa kita katakan) buruk antara lain saat ia memutuskan untuk ’memilih’ kekasihnya dibanding keluarganya. Yang baik, antara lain saat ’seorang diri’, ia tak terjerembab dalam kehidupan yang hitam. Yang jenaka, silakan pilih sendiri mana yang menurut Anda jenaka. Yang mana pun, tentu ada hikmahnya.

Namun, ini bukanlah buku instan yang hikmahnya tinggal comot saja. Kita harus berupaya mencermati kisah-kisahnya dengan sabar untuk melihat hikmahnya, sambil sesekali mengunyah kejenakaannya. Kita bisa belajar dari penyiasatan penulis terhadap kehidupannya yang terjal. Belajar dari kepintarannya, sudah pasti. Tapi, bahkan kita bisa belajar juga dari kebodohannya; kebodohan yang secara lapang diakuinya.

Apakah kisah pindah agama tetap jadi panglima di buku ini? Entahlah. Menurut saya, meski isinya sangat pribadi, buku ini tetap penting dibaca; oleh orang-orang dengan agama apa pun, termasuk agama yang dilepas si penulis; antara lain untuk melihat mengapa ia berpindah agama. Yang aman, mari melihatnya sebagai persoalan anak manusia, si penulis. Saya tak tertarik memperdebatkan agama di sini. Orang bijak bilang, ”Jangan bicara perbedaan agama di media umum, kecuali jika memang ingin berkelahi.”

Anwari Natari
Jakarta