Archive for the ‘My Life is An Open Book’ Category

Review dari Sjahril Mahdar – Riau

1 Comment »

May 4th, 2010 Posted 9:31 am

Hari ini sesuai dengan kesepakatan kita semula, janji saya untuk menulis & membahas buku Ibu G.Lini Hanafiah, seorang Ibu muda cantik yang memiliki seabrek aktifitas yang luarbiasa sibuk, penulis buku best seller, Ibu dari dua orang anak yang cerdas & istri yang sangat baik & belahan jiwa dari Bapak Danny. Saya bisa “mengenal” Ibu Lini, lagi-lagi di fans page Karimata Jazz Band, yang didirikan oleh Bapak Haryo K.Buwono, penulis buku best seller Fatamorgana Kehidupan, yang sudah kita bahas bersama.

My Life Is An Open Book, dari judul buku ini saja, menyimpan rasa penasaran besar. Apa isi buku ini sebenarnya? Saya bisa dapat inspirasi apa dari buku ini? Ternyata setelah saya dikirimi buku Ibu Lini ini, saya membaca isi buku ini semua, saya sampai sedih & menangis melihat seorang anak manusia ciptaan Tuhan yang begitu polos & lugu menceritakan keadaan hidupnya yang berasal dari keluarga Tapanuli yang orangtuanya terkenal sangat berdisiplin tinggi & didikannya yang keras, serta selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin, demi masadepan yang cerah. Seperti kita ketahui bersama, kita harus banyak belajar dari keluarga Tapanuli kebanyakan, walaupun orangtuanya hidup susah, prinsip yang utama dari keluarga tapanuli ini adalah harus bagaimanapun caranya anak-anaknya adalah harga mati harus diperjuangkan menjadi sarjana, bila perlu walaupun ayah ibunya mencangkul diladang, anaknya diperjuangkan sampai menjadi sarjana, baik didalam negeri maupun diluarnegeri. Nah dalam keluarga Ibu Lini ini, saya menilai ibunya beliau jauh lebih memegang peranan begitu besar didalam keluarga, tukang mengatur, “tukang nyerocos” bila dibandingkan dengan ayahnya yang lebih pendiam & pengertian. Ibaratnya kata Ibu Lini, dalam Negara system parlementer, meskipun ada jabatan Presiden, tapi fungsi Presiden tidak dominan, bila dibandingkan dengan fungsi & peranan Perdana Menteri yang jauh lebih dominant, bila dibandingkan dengan Presiden. Nah Lini bilang ibunya yang adalah seorang pegawai negeri sipil dilingkungan pengadilan, mungkin beliau oleh karena pekerjaannya yang selalu menangani orang yang berperkara, Ibunya itu sangat sibuk luarbiasa, sampai-sampai anaknya kurang mendapat perhatian & kasih sayang dari seorang Ibu, walaupun ayahnya Lini itu sangat pengertian, tapi dimata anaknya, ayahnya itu dianggap “kurang wibawa” bila dibandingkan dengan ibunya. Kurang wibawa disini dapat diartikan sebagai ayahnya yang saking baiknya terhadap anak, sehingga anak merasa ayah yang terlalu easy going juga tidak baik, tidak ada dalam bentuk disiplin yang keras, membuat lini kecil, seperti kurang mendapat perhatian juga. Ada ungkapan dimasyarakat bahwa bagaimana ayah ibu menyanyangi anaknya? “tampar anakmu, supaya anakmu tahu bahwa orangtuanya saking sayangnya terhadap anaknya selalu melarang ini itu, itu semua seperti menandakan bahwa anak merasa mendapatkan kasih sayang lewat tamparan kasih sayang itu”. Akibatnya lini kecil haus kasih sayang dengan mencari jati dirinya yang selalu dipertanyakan oleh anak kecil menjelang remaja “Siapakah aku sebenarnya” ??

(more…)

Review dari Qiu Hui Zheng – Bandung

No Comments »

April 23rd, 2010 Posted 7:28 am

Baru baca My Life is an Open Book,cara penulisan yang bagus,kesannya ringan dibaca walaupun isinya berbobot,jarang nemu yang kaya gini :)
Saya menikmati dari awal sampe akhir sambil berpikir dengan heran apa yang sebenarnya membuat ringan dibaca padahal isinya tidak ringan?
Untuk isi saya menangkap kemarahan dan sakit hati yang sulit hilang walaupun logika sudah menerima.Maaf sebesar2nya saya tidak bermaksud menggurui sama sekali tapi sejak baca pengen banget kasih opini.Saya punya mama yang agak mirip sifatnya tapi dengan derajat yang lebih enteng,jadi kurang lebih saya agak memahami apa yang Lini rasakan,sayapun merasakan hal yang sama selama ini.
Mama kita orang yang kurang atau tidak sensitif,sialnya punya anak yang sensitif,anak akan banyak luka,tapi mama sama sekali ga kerasa apa2 dan tidak merasa bersalah sama sekali.Apalagi sepertinya Mama Lini sanguin abis yang sudah ngamuk2 bikin sakit ati ga lama udah lupa dan ketawa2 padahal kitanya masih nangis.

(more…)

Review dari Vina Venylia – Jakarta

No Comments »

April 22nd, 2010 Posted 9:22 am

Aku baru selesai baca buku ungu ini :) )
kesannya: jujur dan mantep bangeeett!! Banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa kuambil dari situ..
Dan aku jadi semakin terkagum-kagum sama Tuhan, yang ciptain kisah hidup tiap orang beda-beda, dengan rahasianya masing-masing..
Inspiratif!! –> Temukan rahasia-rahasia hidupmu, keyakinanmu, dan kebenaranmu sendiri..juga tanggung konsekuensi tiap pilihan yang kamu ambil-baik ataupun tidak baik :)

LOVE IT!! Thanx for sharing your life =) God bless…

Vina Venylia Lim
Jakarta

Review dari Melly Sutjitro – Serpong

No Comments »

April 19th, 2010 Posted 10:33 am

My life is an open book. I love it, ini buku yang tidak cengeng dan tidak pretentious. Kalau sudah tidak pretentious, pastinya bermakna dan tidak (sengaja) diberat2kan. Good job Lin! Funny thing is, aku surpise banget baca puisi hal 116, aku gak tau kalau puisi itu udh ada terjemahannya. Sampai gemetaran krn semangatnya ?:?????????:??..Yg aku tau puisi aslinya yg ditulis oleh Dorothy.. That’s one of fav poem. Kalo kamu masuk blog ku, ada jg di sana. Itu puisi talks to me in so many ways, kalau kamu pas duduk didepanku skrg udah pasti kemuncratan sana sini krn sayanya terlalu semangat mengupas artinya :)
I can relate to what you wrote, karena ya kita memang Ibu, Anak, Mantu, istri, kakak/adik, ipar… Begitu banyak label yang terkadang menuntut job description yang berbeda… Enak dibaca ya krn tidak pretentious itu. Cetakannya bagus juga :) fontnya enak dan layoutnya lapang, jadi buat yang baca (apalagi untuk yg udah agak tuir dpt saya) nyamannn!

Melly Sutjitro
Serpong

Review dari Angel Li – Jakarta

No Comments »

April 19th, 2010 Posted 9:36 am

Membaca buku Lini tanpa mengenal Lini sendiri secara langsung, sebenarnya belum lengkap.

Awalnya saya mengenal Lini lewat facebook. Seorang penulis dengan buku My Life Is An Open Book. Dari judul bukunya saja, saya sudah sangat tertarik. Open book? Benar-benar buku yang terbuka menceritakan hidup si penulis? Saya sempat meragukannya. Tapi tetap saja, saya penasaran ingin tahu apa isi buku tersebut. Akhirnya saya pesan satu. Hari itu juga ketika menerima kiriman, buku itu saya baca habis, meskipun komentarnya baru sekarang…hehehe…

Saya juga punya masa remaja yang sulit, terutama hubungan dengan Mama. Karena itu, sebenarnya saat membaca buku Lini saya bisa mengerti apa yang dirasakan Lini. Menurut saya kata-kata protes Lini terhadap sang Mama sebenarnya adalah harapan Lini akan cinta sang Mama. Harapan agar bisa diterima dan dicintai apa adanya Lini. Harapan semua anak pada orangtuanya. Juga seperti harapan saya pada Mama. Untuk bisa adil pada semua anak-anaknya dan memberikan cinta yang cukup. Namun, terkadang meski sudah meneriakkan banyak protes, orangtua tidak juga sadar akan hal tersebut. Malah cenderung tidak menerima dan menjadi marah.

Meskipun ada yang tidak setuju dan menganggap menceritakan keburukan keluarga adalah membuka aib sendiri, terus terang saya kagum pada Lini. Pada keberaniannya untuk mengungkapkan cerita pahitnya. Dan yang terpenting dari semuanya adalah niat dibalik pengungkapan itu sendiri. Lini mengatakan ingin mengobati luka batinnya. Dengan niat itu, Lini telah memilih jalan yang benar. Dan saya juga berharap proses penyembuhan itu akan menjadi total pada suatu hari nanti.

My Life Is An Open Book adalah sebuah buku sederhana, namun mencerminkan kisah hidup yang sangat nyata yang sebenarnya banyak terjadi pada orang-orang. Banyak pesan-pesan tersembunyi yang penting di dalamnya. Yang bisa kita jadikan pelajaran dalam hidup ini. Tentang bagaimana menghadapi kekecewaan, rasa sakit dan juga tentang bagaimana bisa menerima cinta serta harapan baru. Bahwa hidup ini bukan hanya menawarkan pahit tapi juga ada rasa manis. Serta pesan untuk selalu berjuang dan tidak menyerah pada masa-masa sulit.

Di atas saya katakan bahwa membaca buku Lini tanpa kenal Lini sendiri secara langsung, sebenarnya belum lengkap. Mengapa saya katakan seperti itu, karena sosok Lini yang sebenarnya belum terungkap sepenuhnya di buku tersebut. Yang selalu teringat di kepala saya ketika nama Lini disebutkan, adalah sesosok wanita muda yang ceria, keras namun memiliki hati yang sangat besar. Ia selalu siap berbagi pada siapa saja tentang apa saja yang diketahuinya. Tidak pelit, kata seorang teman. Saya sangat setuju mengenai hal itu. Juga tidak takut tersaingi, atau membuat orang lain menjadi lebih hebat dari dirinya. Sungguh kebesaran hati yang amat mulia. Bahkan Lini lewat Yuk Nulis telah membantu kami menjadi orang-orang yang percaya diri.

Seorang teman, kakak dan guru bagi saya.

Lini, terima kasih atas semangat dan dukungan yang selalu kau berikan dalam dunia penulisan ini. God Bless You Always, Pal! :D

Angel Li
Jakarta

Review dari Olyvia Santoso, Surabaya

No Comments »

April 16th, 2010 Posted 8:58 am

Review : G. Lini Hanafiah : My life is an Open Book

Butuh seminggu buat nyelesaiin buku yang ga seberapa tebal ini. Bukan karena bukunya ga menarik, tapi emang agak sibuk karena si mbak ga kerja lagi (jadi senasib ama Lini yang juga ngurus dua anak sendiri). Sama juga ama Lini, aku juga ngurus rumah dengan cara, yang bisa dibersihin ya di bersihin, kalo belom sempat ya udah. Wadoh, koq malah cerita masalah sendiri ya?

Kesanku selama baca buku ini, penulisnya (Lini) punya luka bathin yang amat dalam ama si Mama. Luka ini mungkin sudah (agak) sembuh, tapi masih meninggalkan bekas yang dalam. Itu jelas tertulis disetiap bagian buku. Bagaimana ketidakpuasan Lini pada Mama. Lini mencoba menggantikan posisi ini dengan Mama Mertua yang punya sifat yang bertolak belakang dengan Mama.

Kalau Mama suka mengeluh, Mama Mertua pendiam. Kalau Mama menekankan pada materi, Mama Mertua lebih pada sikap kekeluargaan. Malahan Lini memberikan kesan baru pertama kali menemukan keluarga besar pada keluarga Ayah. Padahal Lini sendiri punya keluarga besar dari pihak Papa dan Mamanya, walaupun kurang erat. (Kapan-kapan ke Makassar Lin, biar tahu gimana satu kota bisa saling kenal sampe leluhurnya hanya dengan nyebut nama dan alamat orang tua.)

Tapi salah satu yang kusukai dari buku ini selain kejujuran Lini, adalah bagaimana seorang Lini ‘melihat’ ke belakang, tanpa harus ‘kembali’ ke belakang. Ini susah, karena kadang saat seseorang melihat ke masa lalu yang kelam dan penuh luka, dia kembali terluka dan bertambah luka karena pikirannya sendiri.

Kisah hidup Lini dituturkan dengan bahasa yang (cukup) teratur, namun tetap enak dibaca. Itu yang membuatku yakin kalau Lini tidak hidup kembali dimasa lalu saat menulis buku ini. Dia ‘hanya’ melihat saja, seperti melihat film kuno.

Yang lain yang kusuka dari buku ini adalah ‘Think out of the box’ (seperti yang Lini tulis untukku di lembar awal buku ini). Ini juga cara pandang yang susah-susah gampang. Tidak semua orang bisa. Dan diantara orang yang bisa, tidak semua orang bisa selalu menerapkannya. Tapi selama membaca buku ini, itu yang kutekankan dikepalaku. Think out of the box, alias membaca seobjective mungkin. Karena Lini yang kukenal ‘kelihatannya’ berbeda. Dan aku berhasil (walau tidak sepenuhnya hehehe).

Sisi lain kehidupan Lini kurasa mirip dengan hidupku sendiri. Kemarahan pada orang tua sampai mendidik anak (diusahakan) agar mereka semandiri mungkin. Untuk yang terakhir itu, aku yakin, kalau anak di didik mandiri (bukan berarti tidak dimanja) bukan berarti kita menerapkan standard yang terlalu tinggi untuk anak. Namun itu semua untuk melatih kepercayaan diri anak. Tentu saja masih dengan menyediakan reward atas keberhasilan anak buat mandiri tanpa harus dengan materi.

Membaca My Life is an Open Book bukan untuk mengenal Lini, tapi mengenal apa yang membentuk Lini. Bukan untuk mencari kebencian dan pujian Lini untuk siapapun, namun untuk melihat kediri sendiri, apakah kejelekan itu ada pada kita. Bukan untuk untuk mencela atau memuji Lini, namun menarik pengalaman menarik yang dialami seseorang dalam hidupnya.

Happy reading my friends….

Olyvia Santoso
Surabaya

Review dari Therica Lay, Singapura

No Comments »

April 1st, 2010 Posted 10:10 am

Lini, bukumu ok sekali, beda, jujur n berani… membaca bukumu menguatkan saya yg memang selalu percaya bahwa; 1. Tuhan tentu lebih luas dari yg mampu manusia ungkap, agama tidak untuk dipaksakan. 2.segala sesuatu berhubungan, tidak sekedar kebetulan. 3. tak ada yg perlu ditutupi…thx berat buat bukumu.. datangnya tepat bgt loh… saya serasa berdiskusi lsg dgn seorang sahabat..

Therica Lay
Singapura