Archive for the ‘Buku’ Category
E-book: Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu
February 14th, 2010 Posted 9:23 am
Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu
- G. Lini Hanafiah
- Martina Felesia
- Henny Listyowati
- Ratna Ariani
- Dede AM Setiadi
- Ika DS
- Martha Liumei
- Femikhirana
- Levina Widyarsa
- Ode (Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
- Fonny Jodikin
- Angel Li
- Shandra Syailendra
- Imelda Wijaya
- Puji Lestari
- Giacinta Hanna
- Yenny Auw
ISBN: 978-979-18815-3-1
Penerbit: Via Lattea Foundation
83 hal
15×21cm
Sinopsis
Ayu dan Cantik adalah saudara kembar. Ayu adalah gadis pemalu, feminin dan pintar. Cantik adalah gadis ekspresif, tomboy dan mandiri.
Di antara mereka ada Bagus, pemuda rendah hati dan sederhana.
Cantik menyukai Bagus. Bagus menyukai Ayu. Ayu yang tahu isi hati Cantik tidak ingin menyakitinya dengan menerima cinta Bagus. Apakah cinta ini sungguh merah jambu?
Awalnya…
Terdengar ketukan di pintu. Cantik bergegas membukanya. Terlambat. Ayu yang memang duduk di ruang tamu lebih dulu membukanya. Begitu pintu terbuka, senyum hangat Bagus mengembang lebar.
“Hai ….” Bagus mengangguk kecil.
“Eh, Bagus. Dari mana?” Cantik menyapa dari ujung ruang tamu.
“Hai, Gus. Yuk masuk.” Ayu yang masih memegang gagang pintu bergeser memberi ruang supaya Bagus bisa lewat..
Bagus duduk di dekat pintu. Ayu duduk di sebelahnya. Cantik duduk di ujung. Ketiganya duduk terdiam. Ruang tamu itu ikut salah tingkah.
Euforia, Keliaran, dan Kesintingan
Pengantar
Seorang sesepuh Nuliser, Henny, menyampaikan idenya lewat layanan pesan instan, “Lin, mumpung Valentine masih jauh, mau bikin apa? Aku mau usul bikin sesuatu yang dikeroyok.” Hm … boleh juga. Ide ini kusampaikan pada beberapa sesepuh Nuliser yang kami sebut sebagai “Nasi Tim” (berangkat dari ide tim Nuliser sebagai sesepuh). Tentu saja, dengan gegap-gempita mereka menyambut baik.
Mulailah dirancang urusan teknis keroyokan ini. Lalu, didapatlah ide bahwa kail untuk memancing eforia, keliaran, dan kesintingan karya ini dimulai dari sepenggal kisah yang disertai seting sederhana. Sengaja seting ini hanya sepenggal untuk memberi kesempatan lebih pada imajinasi liar seluruh Nuliser yang terlibat.
Tags: Kabar Terbaru, Yuk Nulis!
Posted in Buku
Review dari Agustinus Kuntadi – Sukabumi
January 25th, 2010 Posted 5:26 pm
Lini, bukunya udah selesai dibaca. Two thumbs up, perasaan ngga baca buku cuma dengerin orang cerita aja. Kalau begitu kapan2 boleh dong jadi narasumber
Agustinus Kuntadi, Sukabumi
Tags: Review
Posted in Buku, My Life is An Open Book, Review Buku
Review dari Maria Emmanuelle Atty Utomo – Salatiga
January 25th, 2010 Posted 5:00 pm
mbak Lini… akhirnya selesai juga buku My Life is An Open Book nya tadi pagi dibis ^ ^.. Commentnya buanyaaaakkk…yg pasti “very inspiring book” my thumbs aren’t enought to give
) Great!!
Maria Emmanuelle Atty Utomo, Salatiga
Tags: Review
Posted in Buku, My Life is An Open Book, Review Buku
Review dari Christine Yuliana – Jakarta
January 25th, 2010 Posted 4:57 pm
Just finished reading ur book yesterday.. Good one! Ur life full of adventure ya.. membuka pandangan tentang suatu kehidupan yang lain dan berbeda dari hidupku sendiri..
Christine Yuliana, Jakarta
Tags: Review
Posted in Buku, My Life is An Open Book, Review Buku
Review dari San San Tjahaya – Bandung
December 23rd, 2009 Posted 5:45 pm
Setelah membaca buku ini, aku melihat beberapa keterkaitan yang tak dapat dielakkan dalam kehidupan ini. Kejujuran, yang pada akhirnya melahirkan kebebasan, yang mau tidak mau mendatangkan konsekuensi, yang membutuhkan keberanian untuk menjalani kehidupan yang penuh kedamaian.
Salut kepada penulis yang sanggup menempatkan kejujuran, kebebasan, keberanian dan kedamaian secara maksimal dalam kehidupannya, dan menuliskannya menjadi sebuah pembelajaran bagi para pembacanya.
Terus berkarya, terus maju dengan hidup dan keluarga kecilmu, karena Tuhan memberkatimu senantiasa
San San Tjahaya
Bandung
Tags: Review
Posted in Buku, My Life is An Open Book, Review Buku
Review dari Anang Yb – Bekasi
December 22nd, 2009 Posted 10:27 pm
Review buku:
Judul: “My Life is an Open Book”
Penulis: G. Lini Hanafiah
Apakah saya harus merasa beruntung karena dapat mengenal G. Lini Hanafiah sesaat sebelum membaca buku “My Life is an Open Book”? Atau malah sebaliknya, perjumpaanku dengan si penulis buku itu justeru mengurangi sensasi emosional yang semestinya bisa kureguk di setiap halaman bukunya?
Lini menulis layaknya sedang memegang kemudi bis kota rombeng jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu. Jangan harap Anda bakal diberi kesempatan untuk sejenak senyum-senyum kecil sambil memelototi deretan karyawati seksi yang sedang menunggu bis di sepanjang jalan Gatot Soebroto. Anda cuma penumpang di bis yang dia kendarai. Anda cumapembaca dari buku harian yang dia tulis. Biarkan saja Lini yang sopir itu mengumpat saat diperlakukan tidak adil oleh “polisi”di sepanjang perjalanan hidupnya. Dengarkan saja ocehan panjangnya dan jangan coba-coba Anda masuk apalagi memasukkan kata-kata sarkatisnya ke dalam benak Anda. Anda harus berada di luar Lini untuk bisa “menikmati” buku ini.
Tags: Review
Posted in My Life is An Open Book, Review Buku
Review dari Andre Yuniko Poerdianto, SJ – Melbourne
December 22nd, 2009 Posted 9:40 pm
Aku sempat merenung saat membaca kisahmu dan mengingatkan diriku pada buku diaryku.
Dalam diary itu, aku tampil apa adanya…..semua aku tumpahkan rasa kesal, marah, malu, semua perasaan….tanpa takut bahwa aku tampil tidak orisinil. Aku tampil sebagai dirku sendiri dan hanya ada ALLAH dan diriku (yang adalah Citra-NYA)…….Betapa aku menemukan suatu pembebasan saat mencoretkan perasaanku yang paling jujur kepada buku itu.
Aku merasa semua orang yang memiliki buku diary merasakan apa yang aku rasakan. Namun, hidup ku terasa berbeda bila tampil di dunia yang nyata……..bukan dunia buku diary ku. Banyak hal yang hendak aku tutupi bila bertemu dengan orang lain. Mungkin kadarnya berbeda-beda terhadap satu orang dengan orang yang lain. Semakin aku akrab dengan sahabat, aku makin bisa tampil jujur. Akan tetapi, bila berjumpa dengan orang yang tidak aku kenal atau orang yang tidak aku sukai, aku cenderung berusaha menutup-nutupinya. Muncullah rasa tidak aman dengan diriku sendiri………aku kehilangan kebebasanku. Orang bisa saja memperdebatkan makna kebebasan, namun bagiku berekspresi itu penting. Apakah itu akan melukai perasan orang lain, bagiku lalu menjadi semua harus dikembalikan pada perspektif yang berbeda. Bila ada yang tersinggung dengan tulisanku, itu berarti orang tersebut ketidaksiapan menerima perbedaan pandangan. Ada banyak perspektif terhadap satu pengalaman yang sama, sebab itu tergantung pada pengalaman yang membentuk setiap orang.
Tags: Review
Posted in Buku, My Life is An Open Book, Review Buku






