Review dari V. Teja Anthara, India
weuh…jan luar biasa…masak aku bisa baca tuntas dalam waktu 1 pagi saja ada daya tarik tersendiri ketika membaca, enggak mu berhenti pingin tahu akhirnya…
cara membagikan kebijaksanaanmu bagus sekali… tidak menggurui tetapi menggunakan alegori pengalaman konkrit yang mengena
berubah dan menerima putrinya yang hilang, dan telah menemukan kebenaran sejati… atau sebaliknya…
pasrahkan pada Tuhan dan kita doakan ya…
semua keluarga besarmu menemukan putrinya yang hilang, pulang membawa segudang kebijaksaan
Lini, terima kasih atas kiriman ‘draft’ buku ini kepada saya. Tadi pagi sehabis sarapan pagi saya mencoba membuka file attachment dan saya dapati file 97 halaman dalam adobe pages. Saya mulai membaca halaman demi halaman. Dan apa yang terjadi? Aneh bin ajaib, saya tidak bisa berhenti. Dari pagi jam 08,00 selesai sampai jam 01.00 siang pas jaman makan siang.
Pertama-tama selamat dan proficiat atas selesainya buku itu dan terutama keberanianmu untuk jujur dan bercerita mengenai kehidupan pribadimu. Saya yakin bahwa untuk bisa menuliskan itu tidak gampang dan membutuhkan keberanian yang luar biasa. Saya tidak pernah menduga bahwa itu adalah sejarah hidupmu dan saya tidak pernah mengira betapa panjang kisah yang telah engkau jalani untuk menemukan ‘kebenaran sejati’. Saya berpikir sama seperti apa yang terungkap dalam awal kisahmu itu, bahwa engkau bukanlah orang ‘batak’ tak kira chinese jawa atau betawi.
Tulisan ini pasti sangat subyektif karena bersumber pada kisah pengalaman pribadi, tetapi kalau dikatakan terlalu subyekti menurut saya tidak. Malah bahkan ada tulisan yang sangat pribadi sekali, karena merupakan rahasia pribadi hidupmu, tetapi enggkau membeberkannya begitu berani dan lugas, tanpa tedeng aling-aling. Aku tidak merasakan bahwa dalam tulisan subyektif ini Lini menonjolkan dirimu, bahkan yang nampak adalah bagaimana dalam suka-duka hidup yang berat dari tekenan seorang ibu yang seharusnya memberikan cinta dan teladan engkau menemukan ‘kebijaksanaan sejati’
Memang sepintas nampak bahwa kisah ini menimbulkan kesan tidak ada ‘hal’ yang baik mengenai ibumu. Walupun tidak terkesan menjelek-jelekkan, karena terbungkus dengan prinsip hidup yang berbeda.
Akhirnya saya merasakan bahwa tulisan ini mempunyai ‘daya tarik’ yang luar biasa. Paling tidak membuat saya bisa menyelesaikan dalam waktu singkat tanpa ada rasa bosan, tetapi ada ‘eagerness’ untuk segera selesai sampai tuntas. Bahasanya enak dan bisa dipahami dengan mudah. Mengalir dan tidak terkesan menggurui walaupun banyak ‘mutiara-mutiara’ indah dalam tulisan itu yang mengajar kita untuk hidup lebih baik.
Saya berdoa semoga segera naik cetak dan ada sponsor yang membantu membiayai percetakan. Dan lebih-lebih bila suatu saat keluarga besar ibumu dan bapakmu membaca bukua ini, hati dan mata mereka terbuka lebar-lebar dan berani mengakui kesalahan langkah yang telah diambil dan merangkulnya ‘putrinya yang terbuang’ kembali ke pangkuan keluarga besar. Sehingga dua anakmu yang manis masih mempunyai rasa kebanggaan mempunyai seorang nenek yang hajah dan terpandang di masyarakat. Berkatku untukmu dan keluargamu.
V. Teja Anthara SCJ
Aluva, Kerala, India
Vivat Cor Jesu
Tulisan Terkait
Tags: Review
This entry was posted on Monday, March 16th, 2009 at 7:07 pm and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review e-book. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







