Review dari Sofie Ellien – Jakarta
Mulai menginjak bangku SMP, aku br menyadari bhw mami memperlakukan aku berbeda dgn kakak no.2. Pdhal apa sih yg tdk membuat beliau sehrsnya bangga terhadapku? Aku rangking di kls, SMP kls I puisi2ku sdh terbit di koran, Ketua Osis di SPG, dll dll. Makin jls saat aku menikah dgn suku lain, bkn spt mami yg keturunan or dr papi yg dr Tapanuli. Kunjungan2 yg dibedakan, bahkan perlakuan utk pahopu jg berbeda.
Membaca buku Lini spt melihat ke dlm sebuah cermin, perlakuan berbeda, rasa sakit,tp jg kegigihan utk membuktikan bhw “aku bisa, walau berbeda dan aku mampu!”
Hingga kini, dlm usia 74 thn, mami tetap membedakan yg mana anak emas & anak perak tp walau begitu aku mencoba memahami dlm usia tua ini mungkin aku yg hrs bnyak mengalah & selalu mengasihi mami.
Matur tengkyu, Lini, selesai membaca bukumu yg butuh wktu 6 bln ini ( krn pesan dr Marsel kan Januari ya?) aku “disentil” agar lbh lagi dan lagi utk mengasihi mami apalagi papi udah gak ada walau kadang sakit jg melihat perlakuan berbeda yg msh kutrima hingga kini.
Maaf ya, klo komennya menyaingi jalan tol, ha4, luv U….
btw, udah gak punya hutang ya? LUNAS!
Sofie Ellien
Jakatra
Tulisan Terkait
Tags: Review
This entry was posted on Monday, July 12th, 2010 at 2:53 pm and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review Buku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







