Review dari Sjahril Mahdar – Riau
Hari ini sesuai dengan kesepakatan kita semula, janji saya untuk menulis & membahas buku Ibu G.Lini Hanafiah, seorang Ibu muda cantik yang memiliki seabrek aktifitas yang luarbiasa sibuk, penulis buku best seller, Ibu dari dua orang anak yang cerdas & istri yang sangat baik & belahan jiwa dari Bapak Danny. Saya bisa “mengenal” Ibu Lini, lagi-lagi di fans page Karimata Jazz Band, yang didirikan oleh Bapak Haryo K.Buwono, penulis buku best seller Fatamorgana Kehidupan, yang sudah kita bahas bersama.
My Life Is An Open Book, dari judul buku ini saja, menyimpan rasa penasaran besar. Apa isi buku ini sebenarnya? Saya bisa dapat inspirasi apa dari buku ini? Ternyata setelah saya dikirimi buku Ibu Lini ini, saya membaca isi buku ini semua, saya sampai sedih & menangis melihat seorang anak manusia ciptaan Tuhan yang begitu polos & lugu menceritakan keadaan hidupnya yang berasal dari keluarga Tapanuli yang orangtuanya terkenal sangat berdisiplin tinggi & didikannya yang keras, serta selalu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya untuk sekolah setinggi mungkin, demi masadepan yang cerah. Seperti kita ketahui bersama, kita harus banyak belajar dari keluarga Tapanuli kebanyakan, walaupun orangtuanya hidup susah, prinsip yang utama dari keluarga tapanuli ini adalah harus bagaimanapun caranya anak-anaknya adalah harga mati harus diperjuangkan menjadi sarjana, bila perlu walaupun ayah ibunya mencangkul diladang, anaknya diperjuangkan sampai menjadi sarjana, baik didalam negeri maupun diluarnegeri. Nah dalam keluarga Ibu Lini ini, saya menilai ibunya beliau jauh lebih memegang peranan begitu besar didalam keluarga, tukang mengatur, “tukang nyerocos” bila dibandingkan dengan ayahnya yang lebih pendiam & pengertian. Ibaratnya kata Ibu Lini, dalam Negara system parlementer, meskipun ada jabatan Presiden, tapi fungsi Presiden tidak dominan, bila dibandingkan dengan fungsi & peranan Perdana Menteri yang jauh lebih dominant, bila dibandingkan dengan Presiden. Nah Lini bilang ibunya yang adalah seorang pegawai negeri sipil dilingkungan pengadilan, mungkin beliau oleh karena pekerjaannya yang selalu menangani orang yang berperkara, Ibunya itu sangat sibuk luarbiasa, sampai-sampai anaknya kurang mendapat perhatian & kasih sayang dari seorang Ibu, walaupun ayahnya Lini itu sangat pengertian, tapi dimata anaknya, ayahnya itu dianggap “kurang wibawa” bila dibandingkan dengan ibunya. Kurang wibawa disini dapat diartikan sebagai ayahnya yang saking baiknya terhadap anak, sehingga anak merasa ayah yang terlalu easy going juga tidak baik, tidak ada dalam bentuk disiplin yang keras, membuat lini kecil, seperti kurang mendapat perhatian juga. Ada ungkapan dimasyarakat bahwa bagaimana ayah ibu menyanyangi anaknya? “tampar anakmu, supaya anakmu tahu bahwa orangtuanya saking sayangnya terhadap anaknya selalu melarang ini itu, itu semua seperti menandakan bahwa anak merasa mendapatkan kasih sayang lewat tamparan kasih sayang itu”. Akibatnya lini kecil haus kasih sayang dengan mencari jati dirinya yang selalu dipertanyakan oleh anak kecil menjelang remaja “Siapakah aku sebenarnya” ??
Proses mencari jati diri & mencari kasih sayang ini, akhirnya membuat lini menjelang remaja, bergaul dengan siapa saja, bahkan beliau pernah ikut mengamen di bis, bergaul dengan semua kalangan tanpa membeda-bedakan latar belakang teman. Yang luarbiasa dari Lini adalah beliau sejak kecil menyimpan rasa penasaran besar, apakah bener dia itu anak kandung kedua orangtuanya yang berasal dari keluarga batak tulen? Kok dirinya sepertinya dari bentuk rahang & bentuk tubuh, nggak ada tanda-tanda dirinya adalah berasal dari keluarga batak mandailing yang bermarga Siregar, Lubis & Harahap ? Akhirnya penyelidikan asal-usul diperjuangkan sampai ke Medan, keluarga besar ayah ibunya, sampai penyelidikan ke asal usul golongan darah. Yang mengherankan dari Lini adalah dimasa hidupnya beliau tidak bisa menjawab “teka-teki” dirinya kenapa ayah ibunya bergolongan darah tidak sama dengan dirinya? Pada saat lini mau menjelang nikah, biasanya anjuran dokter, sebelum menikah harus periksa darah dulu ke laboratorium agar kedua calon mempelai tidak membawa penyakit mengerikan seperti penyakit TORCH (Toksoplasma, Other Hepatitis B, Sifilis, Rubella, CMV & Herpes, ternyata dalam cek darah itu, Lini ketahuan bergolongan darah A, berbeda dengan golongan darah ayahnya & ibunya yang semuanya adalah B. Ibunya yang mendampingi lini dalam periksaan darah itu bisa menyimpan rasa kagetnya & berseloroh ringan “ah, paling tertukar”, saat menceritakan kenapa golongan darah lini adalah A ? Walaupun ibunya sedikit pucat, tapi beliau adalah orangtua berpengalaman & bisa menyimpan ekspresinya dengan sebaik mungkin. Tapi bagi lini, dia terus menyimpan rasa penasaran besar. Walaupun penyelidikan sudah diselidiki sampai ke medan, keluarga besar ayah ibunya, tetap saja jawaban yang diterima itu tidak puas. Akhirnya penyelidikan ini berakhir sampai disi, tidak dilanjutkan lagi, karena bagi Lini, buat apa lagi diselidiki terus, karena kedua orangtuanya ini sudah sangat baik membesarkan beliau sampai bisa mandiri.
Saya membaca kisah lini ini, saya menilai dirinya nyaris sama dengan saya yang asli orang sanguinis, suka bicara blak-blakan, tidak ada rahasia-rahasiaan, terbuka adanya & barangkali ada baiknya terbuka demikian, untuk menghilangkan tekanan berat kehidupan. Maksudnya menceritakan keadaan ini, bukan untuk mempermalukan keluarga, tapi setelah menceritakan beban berat ini, hati terasa plong, beban berat terasa berkurang. Saya membaca buku ini, saya bisa menilai bahwa lini adalah seorang gadis yang pintar & cerdas, menjelang usia 19 tahun, dia harus menerima kenyataan pahit kehilangan ayah tercinta yang mengidap penyakit kanker, karena ayahnya seorang perokok berat. Praktis segtelah ayahnya wafat, Lini merasa kesepian & dia terus saja berjuang untuk mandiri, karena takut membebani keuangan ibunya. Dia mencoba melamar kerja menjadi guru bahasa Inggris & Ibunya seperti sikap keluarga batak kebanyakan, selalu menginginkan anaknya fulltime dalam belajar agar cepat tamat kuliahnya & menjadi sarjana “apakah Ho (istilah batak, artinya kamu) tidak percaya sama Ibu mampu menyekolahkan ho sampai sarjana?” begitu ibunya yang sangat dominant dalam kehidupan Lini. Sampai-sampai urusan sekolah, Ibunya tukang atur. Sebenarnya Lini pengen banget kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tapi ibunya sangat melarangnya, Ibunya bilang “buat apa menjadi seniman, sudah kuliah capek-capek, nggak ada titel lagi (jaman tahun 1990an, IKJ belum ada jurusan S1).Ibunya menginginkan anaknya ambil jurusan S1 yang aad title, supaya bisa menjaga gengsi keluarga, kalau nanti Lini menikah, bisa memamerkan gelar akademik didepan kartu undangan resepsi pernikahan, dan ini jelas membanggakan keluarga. Ibunya bilang di Indonesia, orang kurang menghargai kerja seniman, seniman dianggap kurang menjanjikan masadepan yang cerah. (ini persis sekali dengan buku biografi Bung Chrisye yang ditulis Ibu Arberthine Endah, penyanyi legendaries Indonesia Chrisye, yang ayahnya sangat streng, melarang anaknya menjadi seniman, karena jaman itu, ada anggapan, menjadi seniman itu identik dengan masadepan suram. Ayahnya Chrisye yang adalah berasal dari keluarga berkecukupan, karena ayahnya bekerja dilingkungan pemerintahan, punya jabatan oke, menginginkan Chrisye menjadi Insinyur, melanjutkan pekerjaan ayahnya dibidang Insinyur, walaupun ayahnya nggak sarjana, tapi ayahnya itu sangat berpengalaman dibidang insinyur. Ternyata Chrisye tetap pada pendirian bercita-cita menjadi penyanyi terkenal & hobinya & kecintaannya terhadap bidang musik sangatlah tinggi & itu berkat pergaulan dari tetangga beliau di jalan penganggsaan menteng Jakarta yaitu Bung Keenan Nasution bersaudara yang memperkenalkan musik & ngeband kepada Chrisye. Akhirnya Chrisye berjuang terus sampai membuktikan kepada ayahnya bahwa beliau memilih jalur musik sebagai jalan hidupnya, nggak salah jalan, terbukti sampai akhir hayatnya Chrisye, Beliau adalah legenda musik Indonesia, salah satu raja pop kreatif (semi jazz) Indonesia). Saya menyarankan Sidang Pembaca memiliki buku biografi Chrisye ini, sebagai bahan renungan kita untuk selalu mengembangkan potensi maksimal kita sebaik mungkin.
Oleh karena dalam rumahtangga Lini dimasa remaja begitu kerasnya didikan Ibunya, membuat suasana didalam rumah tangga keluarga lini bagaikan “neraka”. Ibunya tiap hari ajak rebut terus & ini jelas nggak membahagiakan dirinya. Dirinya selalu mengangankan pengen cepat-cepat menikah, maksudnya agar bisa keluar dari rumah ibunya, karena supayabisa “merdeka” dari ocehan ibunya, dirasakan Lini, jauh lebih membahagiakan kalau dirinya menikah,terbebas dari omelan ibunya, yang suka nyerocos daripagi sampai malam. Akhirnya dan ini sangat lucu sekali saya bacanya, suatu hari Lini berjumpa dengan Pak Gurunya yang ngajar bahasa perancis disekolah SMA Lini, Saat itu Lini menjadi pelatih teater disekolahnya.Dalam keadaan depresi yang memuncak, Lini menikmati obrolan ringan dengan Pak gurunya yang beda umur 13 tahun dengannya. Yang sangat lucu adalah Pak gurunya tanya, “Lini, kok tumben kamu belum punya pacar? Biasanya kamu kan selalu laris manis, selalu saja ada gandengan, saking banyaknya cowok yang mengincarmu?” Saya tertawa ngakak membaca ini, emangnya barang dagangan, laris manis hahaha. Nah bagi Lini sendiri juga geli luarbiasa, emangnya saya ini truk, ada gandengan hahaha. Rupanya Pak guru ini naksir juga dengan kecantikan muridnya yang cerdas ini yang selalu mendapat nilai 9 dalam pelajaran bahasa Perancis. Lantas Pak guru ini dengan terus terang pengen menikahi Lini dalam pembicaraan dipinggir lapangan olahraga, sehabis selesai main teater. Lini terkejut atas ajakan gurunya itu & menyelidiki keseriusan gurunya. Justru dalam keadaan mepet ini, lini bagaikan mendapat ide agar bisa menikah dengan gurunya, berarti ini bagaikan mendapat tiket merayakan ‘kebebasan”, karena bisa merdeka hidup mandiri & keluar dari rumah ibunya. Ternyata setelah lini diantar pulang oleh Pak gurunya itu, betapa kagetnya ibunya, setelah mengetahui anaknya mau dikencani makan malam. Ini jelas-jelas ibunya kaget luarbiasa, karena keesokan harinya Pak guru ini nekat melamar lini. Dalam tempo 2 hari saja, Pak guru ini mau meminang lini jadi istrinya. Untung saja ibunya nggak jatuh pingsan, akrena Lini masih kuliah & masih dianggap “anak-anak”, kok pak guru ini nekat ngelamar anaknya.Mamanya Lini semakin kaget tanggal pernikahan sudah ditetapkan yaitu tanggal 08 September 2000 (080900), dibalik susunan angka tanggal penikahan itu, artinya tinggal 2 bulan lagi resepsi pernikahan siap digelar. Mamanya kaget luarbiasa, mamanya curiga, apakah Lini hamil duluan, kok belum apa-apa, pacaran saja belum, kok mau cepat-cepat nikah? Tapi akhirnya mamanya menyetujui rencana pernikahan ini.Kendati begitu segala sesuatunya dipersulit mamanya. Setelah lamaran informal tadi, mamanya mengharuskan adanya lamaran formal, yaitu adanya perkenalan antar kedua keluarga dan serentetan syarat-syarat lainnya.Bahkan ada satu syarat yang lucu, Ibunya yang asli Batak, ngotot minta diigelar resepsi ala Jawa.Kedua calon mempelai seperti mati lemes saat mendengarkan syarat-syarat mamanya yang panjangnya melebihi jumlah gerbong kereta api itu hahaha.Menurut Lini, Pak Guru hanya memiliki dana terbatas, disamping kedua orangtua Pak guru di Jawa sudah tua & usia lanjut, nggak mungkin bisa memenuhi syarat-syarat mamanya lini seperti panjangnya gerbong kereta api itu.
Dua minggu sebelum akad nikah digelar, atau sehari dokumen syarat pernikahan Lini & Pak Guru digelar ke KUA, lini membuat keputusan gila dan ajaib.Pernikahan hendak dibatalkan. Pada saat undangan sudah disebarkan kemana-mana & mas kawin sudah disiapkan, & prosesi melangkahi abangnya yang belum menikah karena dilangkahi adiknya yang menikah duluan, yang abangnya meminta jam tangan & sepatu mewah, sebagai syarat untuk dilangkahi adiknya menikah duluan. “Lini Gila”, begitu desas desus diluar sana, nekat mau mnikah cepat, secepat itu pula membatalkan rencana pernikahan yang siap digelar. Seribu pertanyaan orang banyak terheran-heran kenapa Lini membatalkan rencana pernikahan itu yang undangannya sudah tersebar kemana-mana? Lini punya alas an kuat & dia punya kecerdasan luarbiasa. Nalarnya berbicara keras, kendati sederhana & ini menyimpan kecurigaan besar dari Lini, kenapa Pak Guru meminjam kartu keluarga orang lain yang tidak pernah Lini kenal sebelumnya? Pertanyaan yang menakutkan muncul dibenak Lini, “apakah pak Guru ini sudah punya istri dikampung? Jika mau menikah saja, sudah ada yang ditutup-tutupi, berarti ada yang nggak beres dari Pak guru, bagaimana kalau pernikahan sudah menginjak tahun ke lima ini bisa berujung pada bencana besar yang menimpa dia, pikirnya. Ternyata selanjutnya bisa ditebak, pernikahan dibatalkan & Lini merasa bersyukur kepada Tuhan , merasa diselamatkan oleh Tuhan atas batalnya pernikahan ini. Kejadian yang membuat orang lain bertanya-tanya ini adalah titik balik dalam kehidupannya & rencana indah yang Tuhan sudah sediakan baginya.
Lelah mencari jatidiri ditengah-tengah keluarga yang tidak harmonis, membuat Lini mulai mencari “kebenaran” melalui kitab suci. Lini yang berasal dari keluarga Islam taat ini, mulai membaca kitab-kitab suci agama Budha, Hindu & Kristen. Akhirnya proses mencari kedamaian hati, Lini merasa mendapatkan jalan terang hidup proses pengenalan agama Katolik. Lini mengakui bahwa sejak dari kecil, beliau harus mengakui bahwa sebagai penganut agama Islam, beliau nyaris jarang baca Kitab Suci Al Qur’an & nggak bisa mengaji, & abangnya & mamanya suka bilang “kafir” kepada Lini karena tidak pandai mengaji seperti abangnya & jarang sembayang, Kalaupun Lini harus sembayang, dia hanya ikut-ikutan saja, tanpa mengetahui apa makna dan tujuan sholat itu. Dan Liniputus asa, berkali-kali mengaji, dia nggak bisa melakukannya dengan bener. Puncaknya Lini merasa sangat cocok mengenal ajaran Kristus & memutuskan untuk menjadi hamba Kristus yang taat dengan menjadi menganut agama Katolik. Rupanya keputusan Lini menjadi pemeluk agama Katolik, telah membawa “bencana” ibunya tidak menyetujuinya & apalagi Lini akhirnya ketahuan punya pacar baru orang tionghoa yang juga beragama Katolik. Ibunya jelas-jelas tidak mendukungnya, Walaupun lamaran sudah dilakukan 3 kali, Ibunya menolaknya. Ibunya menginginkan Lini bisa menikah sesama batak & bisa meneruskan marga bataknya. Hal ini sangat cocok dengan kejadian apa yang dialami keluarga istri saya. Adik ipar saya yang kuliah di fakultas kedokteran USU & akhirnya adik ipar saya itu bisa sampai sekolah dokter spesialis kandungan SPOG akhirnya nekat menikah dengan suku batak, teman kuliahnya sesamafakultas kedokteran di Fakultas Kedokteran USU. Kedua orangtua tidak setuju, dari pihak mertua saya tidak setuju anaknya menikah dengan orang batak, dari pihak keluarga batak sendiri tidak setuju juga, karena pihak keluarga batak ini yang adalah mantan pejabat dari lingkungan Pertamina, keluarga berkelas, menginginkan anak gadisnya menikah dengan pria batak penerus marga, karena Bapak Sirait tidak memiliki menantu pria asli batak karena kakak –kakak istri dari adik ipar saya itu menikah dengan orang Inggris. Kedua besan mulanya saling tidak tegur sapa. Akhirnya adik ipar saya setelah tamat S1 dari USU, nekat kawin lari dengan istrinya itu, akhirnya kedua keluarga setuju menikahkan mereka berdua. Sekarang adik ipar saya itu meskipun berdarah tionghoa, adalah menantu kebanggaan keluarga Bapak Sirait, karena adik ipar saya itu adalah lulusan terbaik USU di S2 dokter spesialis kandungan & saat ini karirnya semakin menanjak & menjadi kebanggaan keluarga Batak berkelas ini. Pada waktu saya ke medan pada tahun 2008, sewaktu anak saya lahir, saya mendapat kehormatan kunjungan mertua adik ipar saya, Bapak Ibu Sirait yang begitu ramah di rumah sakit bersalin di Medan & beliau selalu mengundang saya kerumahnya, baik di medan maupun di Jakarta. Bapak Sirait bilang “Wony (nama kecil saya), kalau wony mau ke Jakarta, jangan lupa nginap dirumah Bapak, jangan di hotel, sayang uangnya. Rumah Bapak di Jakarta hanya dijaga pembantu, karena semua anak Bapak sudah punya rumah di Jakarta”. Begitu ramahnya Bapak Sirait mengajak saya, beliau bilang “Kita sudah menjadi keluarga, jangan sungkan-sungkan sama Bapak”. Seperti diketahui anak Pak Sirait ini semuanya mengenyam pendidikan tinggi, anak tertuanya bergelar S3 Doktor dari Jepang & anak wanita lainnya S2 lulusan Inggris. Anak bungsunya adalah istri adik saya bergelar dokter umum.
Kembali ke jalan cerita kehidupan Ibu Lini, mesipun mendapat tentangan luarbiasa dari pihak keluarga Lini & keluarga Bapak Danny, masing-masing besan pada mulanya menolak mantunya dengan sangat keras, setelah punya anak pertama, akhirnya kedua orangtua dari pihak Pak Danny & Ibu Lini, akhirnya bisa menerima kedua mantunya, meskipun sampai saat ini keluarga besar dari pihak Lini tidak setuju anaknya bermantukan keluarga dari kalangan suku tionghoa. KIsah-kisah selanjutnya adalah perjuangan keluarga ini dalam mengakkan keluarga yang berbahagia dan sejahtera. Apalagi karir pak danny semakin hari semkain menanjak & karir Ibu Lini sebagai penulis handal & bekerja sebagai wartawan yang suka mewawancarai orang juga sangat sukses. Saya salut dengan perjuangan kedua anak manusia ini yang menikah digereja Katolik dengan suasana sangat sederhana, hanya bermodalkan uang nikah Rp.2,500,000.- mereka nekat menikah dengan uang sendiri (ini bisa terjadi, mungkin kedua orangtua dari pihak masing-masing nggak menyetujui rencana pernikahan ini, kedua orangtua tidak mau membiayai pernikahan suci ini). Tapi keduanya sudah nekat berjanji sehidup semati dialtar Gereja Katolik. Yang mengharukan Lini adalah & saya juga terharu membacanya, pernikahan digelar agak siangan, pagi harinya gelombang pertama, ada pasangan pengantin juga sudah menikah duluan dipagi harinya di gereja, dimana hiasan bunga-bunga altar gereja katolik yang begitu indah, hiasan bunga pernikahan yang menambah suasana romantis insane yang mau menikah. Rupanya pikir Lini, dia kecipratan altar bunga yang begitu indah itu, dan merasa bersyukur kepada Tuhan, jangan sampai petugas bunga itu mencopoti bunga di altar Gereja, ternyata seakan mimpi buruk hadir, bunga-bunga indah itu sedikit demi sedikit dicopoti petugas bunga itu. Lini dalam hatinya menjerit berdoa kepada Tuhan dengan seruan keras. “Tuhan, jangan engkau cabut bunga itu, betapa malunya kami, kalau semua bunga-bunga itu dicabut. Ternyata Tuhan mendengar seruan dari hambaNYA ini, Acara Pernikahan di gereja berlangsung lancer & bunga di altar masih terpampang indah di altar gereja, walaupun sebagiannya sudah dilepas petugas bunga, spertinya petugas bunga nggak tega mencabut habis bunga-bunga indah dialtar gereja katolik itu.
Setelah menikah sekian tahun, setelah bolak balik dalam hidup dirumah kontrakan, akhirnya pasangan muda yang sukses ini bisa punya rumah sendiri yang asri di Bekasi & punya mobil sendiri. Sebuah perjuangan yang luarbiasa. Saya salut akan prinsip yang luarbiasa dari Lini, bahwa dia tegar mengarungi kehidupannya yang berat & penuh dengan tantangan kehidupan & berani menghadapinya dengan kepala tegak & penuh percaya diri. Berani ambil keputusan berani meskipun keputusannya diluar nalar & sebuah keputusan yang bertolak belakang & nggak direstui orangtua, tetap saja berjalan bersama Tuhan, ternyata hari ini Pasangan keluarga Bapak Danny & Ibu Lini mampu memberikan jawaban yang begitu membahagiakan kedua orangtua yaitu bisa hidup mandiri dan sukses, sebuah sikap yang harus kita tiru adalah keberaniannya dalam mengambil keputusan disaat semua orang nggak berpihak kepadanya. Saya harus banyak belajar dari pasangan Lini & Danny ini. Doa saya semoga pernikahan yang kalian berdua bina bisa menjadi kesaksian hidup bagi semua orang & menjadi contoh model (patron) bagi orang banyak, sehingga orang banyak bisa diberkati dengan kehidupan anda berdua yang ajaib & penuh dengan mujizat dari Tuhan. Terima kasih banyak atas kiriman buku My Life Is An Open Book dari Ibu Lini untuk saya. Saya melihat tulisan tangannya begitu indah, tertulis dibukunya “Dear Pak Sjahril, go outside the box” Loves from Lini”. Wow keren bukan ? Sarjana S1 dari sebuah Universitas yang low profile & bersahaja ini telah memberikan warna tersendiri bagi banyak orang. Semoga sidang pembaca facebook yang saya muliakan & hormati bisa menarik pelajaran berguna dari Ibu Lini, penulis buku My Life is An Open Book. God bless yau all…
Sjahril Mahdar
Riau
Tulisan Terkait
Tags: Review
This entry was posted on Tuesday, May 4th, 2010 at 9:31 am and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review Buku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








9:53 am on May 4th, 2010
[...] This post was mentioned on Twitter by G. Lini Hanafiah, G. Lini Hanafiah. G. Lini Hanafiah said: review My Life is An Open Book dari Sjahril Mahdar http://via-lattea.org/buku/review-dari-sjahril-mahdar-riau http://bit.ly/coHVf4 [...]