Review dari Nchus Assaini, Jakarta

Setiap manusia mempunyai kisah/kenangan masing-masing dalam hidupnya. Entah itu kenangan yang baik atau bisa juga kenangan yang buruk. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menjadikan kenangan tersebut sebuah sejarah untuk dijadikan cermin diri agar kehidupan mendatang jauh lebih baik. Bukankah kehidupan itu sendiri adalah sejarah?

Sahabatku yang satu ini (penulis My Life is an Open Book) adalah contoh dari sekian manusia yang mempunyai kisah buruk pada masa lalunya. Namun di masa depan dan sekarang, hal tersebut ia jadikan pengajaran, baik untuk dirinya, anak-anaknya ataupun keluarganya. Terutama buat kedua anaknya.

Ia ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak-anaknya, ia ingin memperlakukan anaknya seperti seorang anak dan sahabat, tidak seperti ibunya dulu. Kisah-kisah dalam setiap bab membawa saya pada sebuah kengerian atau paling tidak pada hati yang berujung mengerutkan kening saya, kok bisa ya!

Nampaknya, ia (penulis) sudah merelakan kisah kelam masa lalunya di ketahui orang lain terbukti ia semangat sekali membeberkan kisah demi kisahnya. Tidak peduli ada orang yang sakit hati dan mungkin lebih sakit hati lagi ketika orang tersebut membaca buku ini. Ia juga tidak peduli, di kemudian hari orang tersebut akan men-capnya sebagai ‘anak durhaka, anak tak tahu diri’. Satu yang diinginkan, ia tidak ingin masa lalunya dialami kembali oleh anak-anaknya.

Buku ini terlalu sensitive tapi bermanfaat. Terlalu sensitive bagi sebagian orang karena buku ini lebih banyak membeberkan keburukan seorang ibu ketimbang kebaikanya padahal semua orang tahu surga ada di telapak kaki ibu. Pembaca akan beranggapan si penulis memang durhaka tapi di sisi lain si pembaca bisa saja menyalahkan orangtuanya.

Bermanfaatnya adalah semua kisah tentang ‘ibu tidak baik’ tersebut bisa menjadi bahan renungan bagi kita sebagai orangtua atau calon orangtua agar menyiapkan bekal untuk mendidik anak-anaknya kelak sehingga meraka tidak menjadi durhaka. Perlu bekal ekstra tentunya. Karena anak adalah amanah.

Sebuah doa untuk kita bersama, “Semoga kita selalu diberikan petunjuk dan pemahaman ilmu oleh-Nya sehingga semua usaha kita tidak sia-sia. Amiin.”

Nchus Assaini
Jakarta

Tulisan Terkait

Tags:

This entry was posted on Monday, March 16th, 2009 at 9:19 pm and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review e-book. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>