Review dari Astrid Viliancu Dewi, Singapura

Komentar mengenai cara penulisan:

Membaca buku ini, saya seakan disuguhi satu kotak puzzle pieces. Dimana saya harus merangkainya terlebih dahulu untuk dapat memahami gambar besar yang hendak ditampilkan, dalam hal ini riwayat hidup si penulis. Beberapa kali saya dibuat bingung oleh timeline, tokoh2 yang bermain dan bahkan mengenai apa yg hendak disampaikan dalam suatu paragraf.

Timeline. Misalnya, sampai sekarang saya masih bingung mengenai kapan sebenarnya penulis merencanakan menikah. Apakah sebelum hengkang dari rumah (hal 22) atau sesudah hengkang dari rumah (hal 18). Atau mengenai kelahiran si bungsu di hal 30 diceritqakan mengenai kelahiran nya, tetapi kemudian di hal 35 dikatakan “empat bulan lagi aku melahirkan si bungsu” Ini menimbulkan sedikit kebingungan. Mungkin lebih baik jika digunakan kalimat ” tiga bulan sebelum kelahiran si bungsu rumah kontrakan habis.”

Juga di hal 10 misalnya saya agak bingung membaca kalimat pembukanya, “Jauh ketika aku menikah” pertanyaan yg muncul dikepala saat itu adalah “menikah? kok tiba2 cerita menikah? sama siapa? yang mana? dst” Mungkin ada baiknya jika bagian itu diletakan di belakang atau menggunakan kalimat, “waktu aku menikah beberapa tahun kemudian… dst”

Tokoh yang bermain. Tokoh2 yang berperan dalam cerita buku ini seakan2 orang2 yang tidak berwajah. Penggambaran individualnya kurang digali dan lagi nama2nya pun cenderung tidak jelas dengan sebutan tante dan om yang saling tumpang tindih. Misalnya, seorang tante (hal 24) siapa ini, dsb. Beda jika disebut seorang tamu wanita yang hadir. Atau contoh lainnya, tante dan om (hal 29), disini saya juga sempat bertanya2 tante dan om yang mana ini, apakah orang tua baptis, ataukah yang pembimbing katekumen atau yang lain lagi? Apakah sama dengan om dan tante yang dibicarakan di halam 31, misalnya? Kakak Ipar (masih di hal 29) yang mana ini? apakah pernah diceritakan sebelumnya? dsb. Atau, siapakah dan apakah anggota KB-OKS yang disebut di hal 54 itu? Dan di hal 56 dikatakan mengenai sorang adik, adik yang mana, tidak pernah diceritakan.

Kalimat2 yang tidak jelas. Ada beberapa kalimat yang muncul begitu saja tanpa korelasi yang jelas dengan apa yang sedang dibicarakan. Misalnya di halaman 9 paragraf terakhir, apa mungkin maksudnya adalah sebagai berikut: “Saat itu aku menyadari bahwa yang kulakukan ini adalah kenikmatan sesaat dimana bahaya besar menanti. Apa jadinya kalau aku selalu berlindung dibalik mama? abang mungkin akan begitu, tapi aku berjanji bahwa aku tidak akan lagi terus berlindung dibalik mama”

Atau misalnya hal 20 paragraf pertama membuat saya sempat mencek lagi apakah ada halaman yang teloncati. Mungkin akan berbeda jika paragraf kedua justru diletakan diatas dan diawal paragraf yang awalnya adalah paragraf pertama itu diberikan kalimat penjelasan “Dengan berbekal pengalaman hidup ini, aku menajarkan kedua anakku….dst”

Halaman 26, “Ada alasan kenapa Tuhan berkehendak agar aku pulang ke rumah mama, makanya rumah kontrakanku tidak boleh diperpanjang oleh pemiliknya” Tetapi sampai diceritakannya kepindahan si penulis dari rumah mama, tidak diceritakan mengapa penulis berpendapat bahwa Tuhan berkehendak supaya ia dan keluarga pindah ke rumah mama. apa ada bencana yg berhasil dihindari karena kepindahan ini? Apakah ada pelajaran hidup yang Tuhan berikan melalui kepindahan ini? dsb.

Hal 94, “Ada juga seorang teman yang ayahnya bekas seorang imam (pastor). Ia keluar dan menikah. Maka jadilah temanku itu anak bungsunya.” Lalu apa korelasi kalimat ini dengan keseluruhan sub bab, bahkan sampai akhir pun si teman ini tidak diceritakan lagi. Hal berikutnya (hal 95) paragraf pertama pun tidak kalah membingungkan. Apakah yang ingin disampaikan, persamaan antara agama Kristen dan Islam? Ataukah ada hal lainnya?

Bahkan ada yang betul2 membuat saya tidak mengerti apa yang sssedang dibicarakan. Misalnya, hal 27: “Aku tidak tahu resikonya bagi ibu yang melahirkan untuk melakukan ini itu dan aku tidak mungkin melakukannya Jadi buat apa aku tahu?”, hal 45: “Besoknya, permintaan ini-itu mengalir. Toh kami tidak di pusat perbelanjaan, itu bisa dijernihkan.”, hal 111: ” lho kenapa? … dst … Logis dan lumrah kan?”

Dan yang sering membingungkan bagi saya adalah tidak adanya korelasi antara judul sub bab dengan isinya, misalnya halaman 82, apa korelasinya dengan “bangga”. Belum lagi beberapa sub bab yang seakan2 salah tempat, misalnya sub bab “terima kasih ya..” rasanya lebih tepat diletakan di bagian akhir.

Saran saya mengenai penulisan:

Gali lebih dalam tokoh2 yang berperan dalam buku ini.
Berikan penamaan yang jelas, jika memang keberatan untuk menyebutkan nama mungkin bisa dipakai nama samaran. Misalnya tante maria, om joseph, bang sahid, dik lucy, dst. Jadi tidak sekedar tante, om, adik, abang, dst.
Gambarkan secara singkat karakternya. Misalnya tante maria pembimbing katekumenku yang sangat keibuan, om yosef kerabatku yang dikenal sangat baik hati, dik lucy yang selalu modis, dsb.
Demikian pembaca mudah mengenali tokoh2 yg ada dan merasa akrab dengan tokoh2 yang bermain.

Akan lebih menarik jika susunan babnya dibuat berdasarkan timeline, fase-fase dalam hidup penulis. Koksistenlah dalam timeline, misalnya pada bab mengenai fase pembangkangan, hindari menceritakan tentang anak. Nanti setelah sampai kepada bab yang menceritakan fase hidup saat menjadi ibu, dapat disertakan kilas balik tapi jangan sebaliknya karena akan membingungkan.

Untuk beberapa hal, terkadang akan lebih enak dibaca jika digunakan kalimat yang sederhana. Misalnya hal 7: ” Jadi itu yang mama mau? Titel, bukan ilmu? Hm…” akan lebih baik jika dipakai kalimat, ” Ternyata bagi mama. titel lebih penting daripada ilmu.” Atau hal 59: “Banyak orang yang tidak tertarik abon selain buatannya.” akan lebih baik jika dipakai, “Banyak orang yang hanya mau makan abon kalau itu buatan mama mertua.”

Komentar saya mengenai isi:

Saya merasa bahwa penulis berusah keras untuk tidak menjadi seperti ibunya tetapi pada akhirnya tanpa sadar penulis malahan menjadikan ibunya sebagai patokan. Jika ibunya melakukan ini maka penulis akan melakukan sebaliknya. Dan sepanjang halaman buku ini segalah hal selalu dibandingkan dengan ibunya. Dengan kata lain, entah sadar atau tidak penulis belum bisa lepas dari bayang2 ibunya. Buku ini dipenuhi keluhan2 dan penjelasan2 yang seakan2 ditujukan kepada sang ibu, kata2 yang mungkin tidak dapat tersampaikan secara langsung. Seakan2 ingin mengatakan, ” Ini lho ma, mengapa aku jadi seperti ini dan melakukan itu. Waktu itu aku tidak menelpon karena ini dan waktu itu aku marah karena begitu, dsb, dst.”

Saran saya mengenai isi:

Meskipun dikatakan telah memaafkan, rasa sakit hati dan belum mampu untuk memaafkan masih tergambar dengan jelas dari gaya penulisan. Pembaca seakan diajak untuk ikut marah terhadap mama. Walaupun pada bagian akhir buku diakui bahwa isi buku ini subyektif, saya rasa akan lebih bermanfaat positif jika gaya penulisan dibuat lebih netral. dengan demikian, pesan2 positif serta pelajaran yang bisa ditarik dari kisah hidup penulis dapat lebih mengena.

Saat2 turning point ada baiknya digali lebih dalam, karena saya rasa disitulah sisi2 positif yang menguatkan (encouraging) yang merupakan daya jual (daya tarik) buku ini dapat lebih ditonjolkan. Misalnya apa yang membuat tertarik untuk pindah keyakinan, apa ada rasa takut dengan resiko dijauhi keluarga besar, mengapa memilih agama yang ini (hindari kesan membandingkan), apa ada rasa canggung saat pertama kali ke Gereja, dsb. Apa yang membuat memilih ayah dibanding mama, apa sekedar ingin menunjukan pemberontakan, apa ada hal2 dari si ayah yang membuat penulis yakin bahwa ini pilihan yang paling tepat, adakah rasa takut memikirkan pernikahan yg akan dijalani, bagaimana perasaan penulis saat konsultasi dengan pastor paroki mengai rencana pernikahan, dsb…

Jadi tidak melulu mengeksplor perasaan penulis dalam kaitannya dengan mama, sebaliknya akan sangat menarik jika transfigurasi cara pandang penulis lebih dieksplore. Saya membayangkan penulis melalui suatu lorong panjang dimana saya ada disampingnya mengikuti sebagai pengamat dan pendengar setia. Pada awalnya lorong itu begitu kumuh dan penulis terus menerus menendang kaleng kosong yang berserakan sebagai tanda kemarahan dan pembangkangan. Tapi pada satu titik, penulis berubah, alih2 menedangi ia mulai memunguti kaleng yang berserakan dan membuangnya ke tempat sampah. Sampai akhirnya menyalakan lampu di lorong itu, menyalakan musik, mencatnya dengan warna warni sehinggga walaupun lorong itu belum akan berakhir, semakin lama perjalanan menjadi semakin menyenangkan. Dan tentunya saya sangat menantikan buku selanjutnya dimana penulis telah sampai pada ujung lorong dan mulai menikmati udara terbuka yaitu saat penulis berhasil melupakan segala sakit hati masa lalunya dan memaafkan mama sepenuhnya. Akan menjadi dwilogi yang menarik dan memperkaya jiwa.

Astrid Viliancu Dewi
Jurong East, Singapura

Tulisan Terkait

Tags:

This entry was posted on Monday, March 16th, 2009 at 10:10 pm and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review e-book. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>