Review dari Angel Li – Jakarta

Membaca buku Lini tanpa mengenal Lini sendiri secara langsung, sebenarnya belum lengkap.

Awalnya saya mengenal Lini lewat facebook. Seorang penulis dengan buku My Life Is An Open Book. Dari judul bukunya saja, saya sudah sangat tertarik. Open book? Benar-benar buku yang terbuka menceritakan hidup si penulis? Saya sempat meragukannya. Tapi tetap saja, saya penasaran ingin tahu apa isi buku tersebut. Akhirnya saya pesan satu. Hari itu juga ketika menerima kiriman, buku itu saya baca habis, meskipun komentarnya baru sekarang…hehehe…

Saya juga punya masa remaja yang sulit, terutama hubungan dengan Mama. Karena itu, sebenarnya saat membaca buku Lini saya bisa mengerti apa yang dirasakan Lini. Menurut saya kata-kata protes Lini terhadap sang Mama sebenarnya adalah harapan Lini akan cinta sang Mama. Harapan agar bisa diterima dan dicintai apa adanya Lini. Harapan semua anak pada orangtuanya. Juga seperti harapan saya pada Mama. Untuk bisa adil pada semua anak-anaknya dan memberikan cinta yang cukup. Namun, terkadang meski sudah meneriakkan banyak protes, orangtua tidak juga sadar akan hal tersebut. Malah cenderung tidak menerima dan menjadi marah.

Meskipun ada yang tidak setuju dan menganggap menceritakan keburukan keluarga adalah membuka aib sendiri, terus terang saya kagum pada Lini. Pada keberaniannya untuk mengungkapkan cerita pahitnya. Dan yang terpenting dari semuanya adalah niat dibalik pengungkapan itu sendiri. Lini mengatakan ingin mengobati luka batinnya. Dengan niat itu, Lini telah memilih jalan yang benar. Dan saya juga berharap proses penyembuhan itu akan menjadi total pada suatu hari nanti.

My Life Is An Open Book adalah sebuah buku sederhana, namun mencerminkan kisah hidup yang sangat nyata yang sebenarnya banyak terjadi pada orang-orang. Banyak pesan-pesan tersembunyi yang penting di dalamnya. Yang bisa kita jadikan pelajaran dalam hidup ini. Tentang bagaimana menghadapi kekecewaan, rasa sakit dan juga tentang bagaimana bisa menerima cinta serta harapan baru. Bahwa hidup ini bukan hanya menawarkan pahit tapi juga ada rasa manis. Serta pesan untuk selalu berjuang dan tidak menyerah pada masa-masa sulit.

Di atas saya katakan bahwa membaca buku Lini tanpa kenal Lini sendiri secara langsung, sebenarnya belum lengkap. Mengapa saya katakan seperti itu, karena sosok Lini yang sebenarnya belum terungkap sepenuhnya di buku tersebut. Yang selalu teringat di kepala saya ketika nama Lini disebutkan, adalah sesosok wanita muda yang ceria, keras namun memiliki hati yang sangat besar. Ia selalu siap berbagi pada siapa saja tentang apa saja yang diketahuinya. Tidak pelit, kata seorang teman. Saya sangat setuju mengenai hal itu. Juga tidak takut tersaingi, atau membuat orang lain menjadi lebih hebat dari dirinya. Sungguh kebesaran hati yang amat mulia. Bahkan Lini lewat Yuk Nulis telah membantu kami menjadi orang-orang yang percaya diri.

Seorang teman, kakak dan guru bagi saya.

Lini, terima kasih atas semangat dan dukungan yang selalu kau berikan dalam dunia penulisan ini. God Bless You Always, Pal! :D

Angel Li
Jakarta

Tulisan Terkait

Tags:

This entry was posted on Monday, April 19th, 2010 at 9:36 am and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review Buku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>