Review dari Andre Yuniko Poerdianto, SJ – Melbourne
Aku sempat merenung saat membaca kisahmu dan mengingatkan diriku pada buku diaryku.
Dalam diary itu, aku tampil apa adanya…..semua aku tumpahkan rasa kesal, marah, malu, semua perasaan….tanpa takut bahwa aku tampil tidak orisinil. Aku tampil sebagai dirku sendiri dan hanya ada ALLAH dan diriku (yang adalah Citra-NYA)…….Betapa aku menemukan suatu pembebasan saat mencoretkan perasaanku yang paling jujur kepada buku itu.
Aku merasa semua orang yang memiliki buku diary merasakan apa yang aku rasakan. Namun, hidup ku terasa berbeda bila tampil di dunia yang nyata……..bukan dunia buku diary ku. Banyak hal yang hendak aku tutupi bila bertemu dengan orang lain. Mungkin kadarnya berbeda-beda terhadap satu orang dengan orang yang lain. Semakin aku akrab dengan sahabat, aku makin bisa tampil jujur. Akan tetapi, bila berjumpa dengan orang yang tidak aku kenal atau orang yang tidak aku sukai, aku cenderung berusaha menutup-nutupinya. Muncullah rasa tidak aman dengan diriku sendiri………aku kehilangan kebebasanku. Orang bisa saja memperdebatkan makna kebebasan, namun bagiku berekspresi itu penting. Apakah itu akan melukai perasan orang lain, bagiku lalu menjadi semua harus dikembalikan pada perspektif yang berbeda. Bila ada yang tersinggung dengan tulisanku, itu berarti orang tersebut ketidaksiapan menerima perbedaan pandangan. Ada banyak perspektif terhadap satu pengalaman yang sama, sebab itu tergantung pada pengalaman yang membentuk setiap orang.
Inilah kekuatan bukumu itu…..engkau telah bicara sangat jujur. Mungkin ada orang yang sakit hati dengan buku ini, namun aku merasa ia belum siap saja menerima pandangan yang jujur darimu. Aku cukup nyakin bahwa orang-orang akan sadar bahwa pengalaman kejujuran itu justru telah membuka pembebasan dari rasa tidak nyaman, rasa sakit hati pada seseorang. Hanya dengan kejujuran itu, kita bisa menerima kesejatiaan diri kita.
Aku mempunyai catatan juga untuk mu…..jangan sampai terjebak pada gambaran sosok ibu yang sempurna…..Aku takut kamu yang mengetahui bahwa ibumu tidak sempurna, lalu menciptakan sosok ibu yang mesti begini begitu……. Itu tidak salah karena kita ingin memberi yang terbaik bagi anak-anak kita, namun bisa mencelakakan dirimu sendiri. Biarlah kamu belajar dari pengalamanmu tanpa melihat kembali bagaimana kamu dididik oleh ibumu.
Teriring banyak cinta dan doa dari sahabatmu…..
Andre Yuniko Poerdianto, SJ
Melbourne
Tulisan Terkait
Tags: Review
This entry was posted on Tuesday, December 22nd, 2009 at 9:40 pm and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review Buku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







