Petikan (Full Version)

Pak Haji berpesan agar tidak menggunakan pendingin agar jenazahnya tidak cepat bau. Di tengah cuaca seperti itu, tentu saja membuat berkendara lebih sulit karena kaca mobil berembun. Aku menyupir secepat mungkin agar segera tiba. Ada satu daerah di pintu keluar Sukabumi menuju Jakarta yang terkenal macet di sore akhir pekan seperti itu. Aku makin gelisah. Berusaha tenang agar dapat menyupir dengan baik dan tidak menangis. Aku yang berkaca mata menangis sambil menyupir sama sekali bukan ide yang baik.

Kebetulan ada serombongan mobil yang dikawal polisi. Di buntut konvoi aku menyalip masuk ikut barisan. Cukup jauh juga aku berlagak bagian dari barisan itu. Itu jadi salah satu kemudahan Papa untuk menuju kediaman terakhirnya.

Jarak Sukabumi-Jakarta terasa jauh… sekali. Entah kecepatan berapa aku berkendara. Hanya dapat berdoa agar aku tidak dikejar polisi atau kecelakaan.

***

Aku merasa si Ayah seperti sepatu bututku. Kok jelek sekali? Tidak romantis! Bagian tubuhku yang paling peka adalah kaki. Mungkin karena aku kerap mengenakan sepatu atau sandal dengan hak cukup tinggi bagi anak-anak. Maka sampai sekarang aku tak sanggup berlama-lama dengan sandal atau sepatu cantik nan seksi berhak tinggi. Bisa-bisa punggungku juga ikut terasa nyeri. Maka, sampai sekarang andalanku adalah sneakers (sepatu kets). Bahkan aku masih saja menjadi fans dari salah satu jenis sepatu dari merek tertentu.

Tulisan Terkait

Tags: ,

This entry was posted on Monday, December 1st, 2008 at 12:01 am and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Petikan (Full Version). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>