Keberanian Membuka Aib Demi Menebar Hikmah
judul buku: My Life is an Open Book
penulis: Lini G. Hanafiah
Perlu keberanian untuk membuat sebuah buku yang berpotensi membuka aib masa lalu, tidak saja tentang dirinya, tapi juga tentang keluarganya. Namun, tentu penulis tak bermaksud mengumbar aib. Dalam my life is an open book, ia cuma ingin berbagi sebab-sebab kenapa ia jadi seperti ini. Seperti sekarang ini. Baik dianggap menjadi buruk maupun dianggap jadi lebih mulia.
Perlu keberanian pula untuk membuat buku yang menceritakan salah satu episode kehidupannya yang paling monumental: pindah agama. Praktis, sedemikian rupa, ia menjaga jarak dengan teman-teman seagamanya yang lama. Meski di satu sisi ia akan mendapat sambutan hangat dari teman-teman seagamanya yang sekarang, termasuk untuk membeli bukunya, baik karena tertarik isinya, ataupun karena empati terhadap ’saudara’ barunya, si penulis.
Saya rasa, perlu keberanian pula membuat komentar atas buku ini. Karena, ya itu tadi, ada episode pindah agama; yang bagi bangsa timur seperti Indonesia masih dianggap isu besar dalam hubungan sosial. Lagipula, keberanian si penulis untuk menerbitkan bukunya secara mandiri, dengan bantuan teman-teman lama dan barunya, perlu dihadiahi keberanian mengomentarinya. Menerbitkan buku sendiri bukanlah ide yang setiap hari muncul bagi orang dengan tingkat ekonomi rata-rata, seperti penulis.
Selain itu, memang sudah lama saya ingin mengomentari buku ini. Namun, sebelum hari ini, saya tak kunjung dapat memutuskan sudut pandang komentar. Tak mungkinlah hati saya terbebas murni dari subjektivitas; saya juga beragama; saya juga temannya.
Untunglah, penulis tak sedikit pun menjelekkan agama yang ditinggalkannya, atau memuja-muja agama yang dianutnya sekarang; yang dapat menjerumuskan buku ini menjadi syiar yang verbal. Tampaknya ia tahu risiko dari tak berhati-hati memaparkannya itu. Lagipula, buku ini tak ”sedangkal” hanya bicara pindah agama. Banyak juga narasi tentang bertahan hidup tanpa harus jadi binatang; salah satunya. Tapi, saya tak hendak membuat resensi, hanya komentar, seperti janji saya di atas. Sedikit komentar.
Hanya satu, kejujuran penulis perlu mendapat apresiasi. Ia menceritakan berbagai episode kehidupannya, dari yang buruk, yang baik, yang tragis, sampai yang jenaka apa adanya, tidak tampak tendensius. Yang (secara tergesa bisa kita katakan) buruk antara lain saat ia memutuskan untuk ’memilih’ kekasihnya dibanding keluarganya. Yang baik, antara lain saat ’seorang diri’, ia tak terjerembab dalam kehidupan yang hitam. Yang jenaka, silakan pilih sendiri mana yang menurut Anda jenaka. Yang mana pun, tentu ada hikmahnya.
Namun, ini bukanlah buku instan yang hikmahnya tinggal comot saja. Kita harus berupaya mencermati kisah-kisahnya dengan sabar untuk melihat hikmahnya, sambil sesekali mengunyah kejenakaannya. Kita bisa belajar dari penyiasatan penulis terhadap kehidupannya yang terjal. Belajar dari kepintarannya, sudah pasti. Tapi, bahkan kita bisa belajar juga dari kebodohannya; kebodohan yang secara lapang diakuinya.
Apakah kisah pindah agama tetap jadi panglima di buku ini? Entahlah. Menurut saya, meski isinya sangat pribadi, buku ini tetap penting dibaca; oleh orang-orang dengan agama apa pun, termasuk agama yang dilepas si penulis; antara lain untuk melihat mengapa ia berpindah agama. Yang aman, mari melihatnya sebagai persoalan anak manusia, si penulis. Saya tak tertarik memperdebatkan agama di sini. Orang bijak bilang, ”Jangan bicara perbedaan agama di media umum, kecuali jika memang ingin berkelahi.”
Anwari Natari
Jakarta
Tulisan Terkait
This entry was posted on Thursday, June 11th, 2009 at 7:56 am and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review Buku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







