E-book: Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu
Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu
- G. Lini Hanafiah
- Martina Felesia
- Henny Listyowati
- Ratna Ariani
- Dede AM Setiadi
- Ika DS
- Martha Liumei
- Femikhirana
- Levina Widyarsa
- Ode (Petrus Bayu Puja Mega Irawan)
- Fonny Jodikin
- Angel Li
- Shandra Syailendra
- Imelda Wijaya
- Puji Lestari
- Giacinta Hanna
- Yenny Auw
ISBN: 978-979-18815-3-1
Penerbit: Via Lattea Foundation
83 hal
15x21cm
Sinopsis
Ayu dan Cantik adalah saudara kembar. Ayu adalah gadis pemalu, feminin dan pintar. Cantik adalah gadis ekspresif, tomboy dan mandiri.
Di antara mereka ada Bagus, pemuda rendah hati dan sederhana.
Cantik menyukai Bagus. Bagus menyukai Ayu. Ayu yang tahu isi hati Cantik tidak ingin menyakitinya dengan menerima cinta Bagus. Apakah cinta ini sungguh merah jambu?
Awalnya…
Terdengar ketukan di pintu. Cantik bergegas membukanya. Terlambat. Ayu yang memang duduk di ruang tamu lebih dulu membukanya. Begitu pintu terbuka, senyum hangat Bagus mengembang lebar.
“Hai ….” Bagus mengangguk kecil.
“Eh, Bagus. Dari mana?” Cantik menyapa dari ujung ruang tamu.
“Hai, Gus. Yuk masuk.” Ayu yang masih memegang gagang pintu bergeser memberi ruang supaya Bagus bisa lewat..
Bagus duduk di dekat pintu. Ayu duduk di sebelahnya. Cantik duduk di ujung. Ketiganya duduk terdiam. Ruang tamu itu ikut salah tingkah.
Euforia, Keliaran, dan Kesintingan
Pengantar
Seorang sesepuh Nuliser, Henny, menyampaikan idenya lewat layanan pesan instan, “Lin, mumpung Valentine masih jauh, mau bikin apa? Aku mau usul bikin sesuatu yang dikeroyok.” Hm … boleh juga. Ide ini kusampaikan pada beberapa sesepuh Nuliser yang kami sebut sebagai “Nasi Tim” (berangkat dari ide tim Nuliser sebagai sesepuh). Tentu saja, dengan gegap-gempita mereka menyambut baik.
Mulailah dirancang urusan teknis keroyokan ini. Lalu, didapatlah ide bahwa kail untuk memancing eforia, keliaran, dan kesintingan karya ini dimulai dari sepenggal kisah yang disertai seting sederhana. Sengaja seting ini hanya sepenggal untuk memberi kesempatan lebih pada imajinasi liar seluruh Nuliser yang terlibat.
Awalnya, saya ragu. Berapa Nuliser yang liar dan sinting seperti saya? Saya sungguh yakin kalau Nuliser lain sebetulnya juga liar, hanya kesempatannya yang kurang. Beberapa Nuliser mengakui bahwa untuk menulis di blog saja mereka tidak yakin untuk liar.
Terkumpul 17 Nuliser—saya, Tina, Henny, Ratna, Dede, Ika, Martha, Femi, Levi, Ode, Fonny, Angel, Shandra, Imelda, Puji, Hanna, Yenny. Demikian banyaknya Nuliser yang antusias, jadwal diubarh, harus dibagi sekian orang per hari. Maka, jadwal giliran menulis dibuat seperti piket: pagi, siang, malam. Mereka memilih sendiri waktu mana yang paling luang. Cerita harus di-copy-paste seluruhnya dan dikirim ke milis agar tidak ada yang terlewat. Secara teori, semua akan berjalan dengan baik. Saya cukup tenang menyambut hari pertama kisah ini dikeroyok sekian banyak orang.
Tiba harinya, Senin.
Saya mengirimkan seting dan penggalan awal sebagai prolog kemudian saya lanjutkan dengan tulisan saya sendiri. Hari-hari awal berjalan dengan sukses! Sejauh ini, tidak ada yang sulit. Menjelang pertengahan, mulai terjadi kekacauan. Beberapa Nuliser tidak taat jadwal tapi tidak mengganggu alur. Okelah. Ini bisa dimaklumi karena kami semua terlalu semangat. Sampai akhir putaran pertama, kekacauan ini terus berlangsung namun tetap tidak mengganggu alur. Sisi baiknya, dalam satu minggu satu putaran bisa selesai. Masih ada dua minggu sampai hari Valentine. Cukup untuk tiga putaran.
Minggu kedua, putaran kedua.
Jadwal makin kacau. Bahkan, ada Nuliser yang salah jadwal dan tumpang-tindih alurnya. Terpaksa direvisi sedikit. Ini bisa dimaklumi karena banyaknya jumlah surat-e yang masuk ke kotak surat masing-masing dan membuat bingung bagi yang tidak mengikutinya dengan runut. Saking kacaunya, menjelang akhir putaran kedua ini makin tidak jelas jadwalnya. Tidak hanya itu, Ika terpaksa mengundurkan diri karena komputernya rusak.
Kekacauan ini juga ada baiknya. Semua yang terlibat merasa khawatir jika cerita terlihat berlebihan karena dipaksa untuk panjang. Lalu, diputuskan bahwa cukup dua putaran saja sambil menunggu mungkin Ika bisa kembali bergabung meskipun nyatanya tidak.
Tidak puas sampai di situ. Kesintingan saya tak tertahankan. Bagaimana mengakhiri cerita ini? Saya ingat betul novel anak detektif jaman saya kecil dulu, pilih sendiri petualanganmu. Sambil menunggu selesainya putaran kedua, saya meminta agar setelah Nuliser terakhir menyelesaikan bagiannya, yang lain bisa mengakhiri cerita ini sesuai versi masing-masing. Bedanya, naskah tidak dikirim ke milis tapi ke kotak surat Yuk Nulis! agar tidak ada yang nyontek dan jadi kejutan. Selain ini cukup adil bagi semua yang terlibat, pembaca juga bisa memilih akhir cerita yang paling disuka. Masih ada waktu empat hari untuk melamunkan akhir cerita.
Naskah mulai berdatangan. Saya salah perhitungan. Saking asyiknya menyunting, saya lupa untuk membuat akhir cerita. Begitu saya harus menyunting akhir cerita Nuliser lain, ini jadi tidak adil. Hanya saya yang tahu di mana celah akhiran yang belum tersentuh. Sudah pasti, saya terpengaruh. Saya sampaikan pada mereka bahwa saya kadung menyunting akhiran yang masuk sementara saya belum membuat. Saya putuskan bahwa saya tidak akan membuat akhiran kisah.
Mengerjakan proyek edan ini bukan hanya bikin mumet tapi juga membuat kami ketagihan. Selalu tidak sabar menunggu kelanjutan cerita yang berasal dari 17 pikiran berbeda. Setiap lanjutan cerita itu datang, bagaimanapun dramatis ceritanya, kami bisa terbahak-bahak menyadari “kok ceritanya jadi begini?”.
Lega sekaligus kehilangan setelah naskah ini selesai dikerjakan. Lega karena tidak lagi berkutat dengan jadwal yang kacau tapi kehilangan rasa penasaran akan kelanjutan cerita. Kebersamaan mengeroyok kisah ini cukup membuat kami menjadi akrab. Dari situ terkuak bahwa tulisan ini adalah penggalan kisah hidup 17 penulisnya.
Buku ini sengaja saya sunting dengan tetap menjaga gaya tulisan masing-masing. Buku ini hanya sebagai kesempatan menulis. Kami sadar, buku ini jauh dari sempurna. Tanpa kesempatan, seorang penulis besar tidak akan memulai karir kepenulisannya.
Di “Rumah Kos” Yuk Nulis!—di mana saya dipanggil dengan sebutan “Ibu Kos”—saya memang bukan orang yang murah pujian. Begitulah saya. Kali ini, dengan sepenuh hati, saya katakan bahwa saya sungguh bangga memiliki “Penghuni Kos”—alias Nuliser—seperti mereka!
Terima kasih, sahabat Nuliser semua. Terima kasih pada semua fans Yuk Nulis!. Terima kasih pada keluarga dan semua teman-teman kami. Yang terpenting, terima kasih pada Tuhan YME karena tanpa-Mu karya ini tidak dapat kami persembahkan di hari kasih sayang ini.
Happy Valentine! Selamat mengungkapkan kasih sayangmu pada orang terdekat dan siapa saja. Cinta itu (tidak) merah jambu.
Salam merah jambu,
G. Lini Hanafiah
Via Lattea Foundation
Silakan unduh dari tautan ini Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu (618)
Jika Anda merasa bahwa Yuk Nulis! layak untuk dikembangkan dan melahirkan banyak buku baru, silakan untuk mengirimkan donasi ke
BCA KCP Bulevar Hijau
a/c 5210570707
G. Liniasari DP
Jika kesulitan mengunduh, silakan mengisi form di bawah
Tulisan Terkait
Tags: Buku, Kabar Terbaru, Yuk Nulis!
This entry was posted on Sunday, February 14th, 2010 at 9:23 am and is filed under Buku, Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









11:33 am on February 14th, 2010
Komen dulu aaaah….
Baru nyadar g jg punya sisi ‘sinting’ n ‘liar’, terima kasih buat Ibu Kos yg nyadarin….hahahahaha
11:38 am on February 14th, 2010
@ Angel: hehehe… sulameett.. brarti lu udah berhasil gue tularin
12:32 pm on February 15th, 2010
Di zaman era globalisasi, teknolgi sebagai alat tukar menukar informasi telah dapat digunakan untuk sharing ideas and tacit also explicit knowledge secara cepat. Pembentukan norm dan sharing perception and ideas menjadi lancar tanpa perlu banyak waktu tersita dengan tatap muka. SHARING sebagai BUDAYA baru di Indonesia menjadi Gejala Baru Yang Baik dikembangkan di Lingkungan Sosial Tertutup Masyarakat Indonesia. Learning Virtual Organization telah mulai terbentuk dan merambah ke Masyarakat Indonesia. Semoga Undang-Undang IITE tidak membatasi lahirnya INOVASI-INOVASI Baru di Kalangan Masyarakat Indonesia. Baik Inovasi Pemikiran dan Inovasi Gaya Hidup.
3:01 pm on February 15th, 2010
@ Datuk: terima kasih banyak atas komentarnya. Sukses selalu. Salam Merah Jambu
4:57 pm on February 16th, 2010
Huebat…plok…plok…plok…
akhirnya selesai dalam 2 hari disambi kerjaan.
ide yang bener gilanya lin. ternyata dari ide yang aneh bisa juga jadi tulisan yang membuat penasaran.
beberapa catatan: p18, kamar yang tidak berjendela (Angel) dibuat berjendela di p27 (Lini); ide cerita yang gonta ganti terlalu cepat (sesuai ide masing2 penulis); ide adanya pilihan ending…keren; sebenernya settingnya membuat saya bingung, di pedesaan yang ada danaunya atau di jakarta yang ada danaunya? (ada danau di jakarta ya?)
at the end…KERENNN…HEBAT…
untuk ending saya pribadi suka 2: femi & shandra.
selamat ya kalian hebat…dan gila? hehehehe (^.^)
ide split personality disorder-nya juga keren tapi sayang tidak digali lebih dalam & diganti dengan raga yang muncul secara fisik.
5:29 pm on February 16th, 2010
@ Ferni: tengkiyuu yaa…
1:11 pm on April 20th, 2010
boleh ya sharing ebook ini sama teman2.. thnaks
4:44 pm on April 20th, 2010
@ Desinta: silakaann…