Afriza Me-review Buku ‘My Life is an Open Book’ Karya Genevieve L.H.


“…Percuma saja berlayar
Kalau kau takut gelombang
Percuma saja bercinta
Kalau kau takut sengsara…”

‘Jatuh Bangun’, Eko Sachy by Meggi Z –

Intro

Sebuah tulisan yang hebat, menurut ukuran saya, adalah tulisan yang bisa mendorong pembacanya untuk melakukan sesuatu setelah proses pembacaan itu berlalu. Bila setelah membaca sebuah buku, pembacanya hanya mengerutkan kening tanda tak mengerti, atau sekedar mengangkat alis tanda tak tersentuh; maka nilai positif yang paling dominan, jika tidak bisa dibilang satu-satunya, dari dicetaknya buku tersebut untuk sebagian besar pembaca adalah ketersediaannya dalam rangka meramaikan rak pajang di toko buku. Sebuah eksklusivitas yang mengucilkan eksistensi. Memakai ukuran ini, saya bisa mengatakan dengan jumawa bahwa buku ‘My Life is an Open Book’ (selanjutnya disebut MLOB) sebagai sebuah buku yang hebat. Dan pilihan saya ini mengantarkan pada sebuah ‘kenapa’.

“Kenapa?”

Ide untuk menelanjangi diri sendiri dalam sebuah karya tulis bersifat biografis jelas bukan sebuah hal yang baru. Di ranah filosofis Sartre dalam Les Mots sudah melakukannya, dalam format yang lebih eksperimental bisa pula dilihat model penulisan semacam ini pada seri karya semi-biografis James Joyce. Lalu apa istimewanya buku MLOB? Tentu bukan dari orisinalitas ide. Kembali pada ukuran yang saya jelaskan pada bagian Intro, buku ini telah berhasil mendorong pembacanya untuk melakukan sesuatu setelah membacanya. Dua buku karya pengarang terkenal yang saya sebutkan di atas, hanya benar-benar dinikmati oleh segelintir pembaca, dan lebih sedikit lagi jumlah pembaca buku tersebut yang berani membuat review atas dasar yang bisa diperhitungkan secara populis. Bandingkan dengan buku MLOB yang mampu mendatangkan review dari berbagai kalangan; dari mulai kalangan akademis sampai para ibu rumah tangga begitu antusias mengirimkan ulasan dan pendapat yang konstruktif setelah membaca buku ini. Dengan gaya tutur masing-masing, mereka semua telah menambahkan warna tersendiri untuk keberadaan buku MLOB, yang membentuk sebuah prisma ragam sisi yang menampung dan memantulkan cahaya baru dari mentari pustaka. Cahaya itu pun, disebabkan oleh ragam anasir yang terkandung, dapat diserap dengan baik oleh banyak orang disekitar pembaca. Pada akhirnya berjangkitlah Kepedulian yang menular. Itulah kenapa saya menyebut MLOB sebagai buku yang hebat.

Guru yang Tidak Menggurui

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, dan semuanya disampaikan tanpa tendensi mengajari. Pada beberapa halaman si penulis bahkan menunjukkan sisi-sisi dalam dirinya, seperti dikatakannya sendiri, tergolong sebagai sisi yang “sama sekali tak pantas ditiru!”
Maka sisi awal yang bisa dikedepankan dalam buku ini, menurut saya, adalah pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah Kejujuran. Jujur mengakui kekurangan diri, bahkan membagikannya pada semua orang, untuk bahan pembelajaran dan renungan bersama. Butuh keberanian yang besar untuk bisa mengambil sikap seperti ini.
Dan Keberanian pula yang menjadi sisi selanjutnya yang muncul dalam buku MLOB. Keberanian penulis untuk keluar dari kotak dan pengkotakkan di sekitar diri dan kehidupannya. Keberanian untuk mengambil sikap dan menjalankan semua pilihan yang diambil bersama segenap konsekuensinya. Dia belajar dan masih bersemangat untuk terus belajar.
Pelajaran hidup memang tak pernah usai sebelum kehidupan itu sendiri usai. Ujian demi ujian akan terus berdatangan. Dari semua itu manusia belajar untuk mengatasi dirinya dan kehidupannya.

Konklusi (Sementara)

Adalah kejujuran dan keberanian dalam menghadapi semua ujian hidup yang akan membantu seseorang untuk mengambil sikap terbaik; untuk membentuk sebuah pribadi yang tangguh, yang mampu untuk terus mengatakan ‘YA’ kepada semua tantangan yang datang. Takkan pernah ada kesimpulan final, yang ada hanya serangkaian perkenalan.

Buku ini mengajak anda semua untuk berkenalan pada seorang wanita yang tidak takut akan gelombang hidup, sehingga memutuskan untuk terus berlayar dalam samudera kehidupan sampai akhir hayatnya tiba. Seorang wanita yang tidak takut untuk sengsara, sehingga dia pun menyambut makna cinta dan mengakrabi sembilu yang melekat di sela-sela sayapnya.
Wanita itu bernama Genevieve Lini Hanafiah, dan anda bisa menyusuri kisah hidupnya dalam sebuah buku berjudul “My Life is an Open Book’.

Selamat membaca, dan semoga anda termasuk dalam jajaran pemberani yang tergerak untuk ikut menulis juga.

Udo Indra
Cibinong



Tulisan Terkait

Tags:

This entry was posted on Monday, July 12th, 2010 at 9:40 pm and is filed under Buku, My Life is An Open Book, Review Buku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>