ISBN: 978-979-18815-3-1 Penerbit: Via Lattea Foundation 83 hal 15×21cm
Sinopsis
Ayu dan Cantik adalah saudara kembar. Ayu adalah gadis pemalu, feminin dan pintar. Cantik adalah gadis ekspresif, tomboy dan mandiri.
Di antara mereka ada Bagus, pemuda rendah hati dan sederhana.
Cantik menyukai Bagus. Bagus menyukai Ayu. Ayu yang tahu isi hati Cantik tidak ingin menyakitinya dengan menerima cinta Bagus. Apakah cinta ini sungguh merah jambu?
Awalnya…
Terdengar ketukan di pintu. Cantik bergegas membukanya. Terlambat. Ayu yang memang duduk di ruang tamu lebih dulu membukanya. Begitu pintu terbuka, senyum hangat Bagus mengembang lebar.
“Hai ….” Bagus mengangguk kecil.
“Eh, Bagus. Dari mana?” Cantik menyapa dari ujung ruang tamu.
“Hai, Gus. Yuk masuk.” Ayu yang masih memegang gagang pintu bergeser memberi ruang supaya Bagus bisa lewat..
Bagus duduk di dekat pintu. Ayu duduk di sebelahnya. Cantik duduk di ujung. Ketiganya duduk terdiam. Ruang tamu itu ikut salah tingkah.
Euforia, Keliaran, dan Kesintingan
Pengantar
Bulan Januari 2010.
Seorang sesepuh Nuliser, Henny, menyampaikan idenya lewat layanan pesan instan, “Lin, mumpung Valentine masih jauh, mau bikin apa? Aku mau usul bikin sesuatu yang dikeroyok.” Hm … boleh juga. Ide ini kusampaikan pada beberapa sesepuh Nuliser yang kami sebut sebagai “Nasi Tim” (berangkat dari ide tim Nuliser sebagai sesepuh). Tentu saja, dengan gegap-gempita mereka menyambut baik.
Mulailah dirancang urusan teknis keroyokan ini. Lalu, didapatlah ide bahwa kail untuk memancing eforia, keliaran, dan kesintingan karya ini dimulai dari sepenggal kisah yang disertai seting sederhana. Sengaja seting ini hanya sepenggal untuk memberi kesempatan lebih pada imajinasi liar seluruh Nuliser yang terlibat.
Setelah saya merilis e-book “Yuk Nulis!”, saya nekat untuk membangun komunitasnya beberapa bulan lalu melalui milis dan blog Yuk Nulis!. Terkumpullah beberapa orang yang memiliki bakat terpendam.
Seiring berjalannya waktu, semakin semarak kehidupan di “rumah” Yuk Nulis!”. Saya merasa sudah waktunya untuk membuatkan tempat tambahan, yaitu page Yuk Nulis! di Facebook.
Sebentar saja, sudah memiliki fans begitu banyak. Luar biasa! Bahkan banyak yang bukan teman-teman saya. Semua ingin menulis. Pada semua orang yang minta diajari menulis, saya selalu menjawab, “Coba download e-book saya, nanti kita sharing di milis.”
Ternyata, entah bagaimana, beberapa orang itu kerap menanyakan ke Marsel, urusan direct selling, apakah bisa membeli buku “Yuk Nulis!”.
Sejak awal saya membuat, ide dasarnya adalah sekolah gratis. Maka saya buat e-book itu dengan bebas di-download tanpa batas waktu.
Kenapa tidak dicetak?
Dicetak itu butuh ongkos, maka pembaca harus mengganti ongkos cetak. Lalu ide sekolah gratis tidak lagi gratis karena pembaca harus merogoh koceknya.
Mohon maaf, sampai saat ini dan entah kapan, e-book “Yuk Nulis!” akan tetap menjadi e-book dan akan tetap gratis.
Lini, bukunya udah selesai dibaca. Two thumbs up, perasaan ngga baca buku cuma dengerin orang cerita aja. Kalau begitu kapan2 boleh dong jadi narasumber
mbak Lini… akhirnya selesai juga buku My Life is An Open Book nya tadi pagi dibis ^ ^.. Commentnya buanyaaaakkk…yg pasti “very inspiring book” my thumbs aren’t enought to give ) Great!!
Just finished reading ur book yesterday.. Good one! Ur life full of adventure ya.. membuka pandangan tentang suatu kehidupan yang lain dan berbeda dari hidupku sendiri..
Menulis, kegiatan yang bagi sebagian orang menyenangkan, bagi sebagian lagi menyulitkan. Sulit? Bagi mereka yang merasa sulit, biasanya karena tidak tahu harus mulai dari mana, bagaimana memulainya, dan apa yang harus ditulis. Ada juga yang merasa menulis itu butuh usaha ekstra atau tidak berbakat tetapi memiliki keinginan besar.
Kutipan diatas yang diambil dari Page-nya Mba Genevive Lini Hanafiah salah satu ‘profiler’ yang selalu aktif di Jejaring FACEBOOK yang memberikan gue dan mungkin kamu-kamu semua yang menyelami mengenai Mba Lini mengenai kerangka yang mendalam bagaimana merenungkan inspirasi kita dalam bidang tulis-menulis.
Setelah membaca buku ini, aku melihat beberapa keterkaitan yang tak dapat dielakkan dalam kehidupan ini. Kejujuran, yang pada akhirnya melahirkan kebebasan, yang mau tidak mau mendatangkan konsekuensi, yang membutuhkan keberanian untuk menjalani kehidupan yang penuh kedamaian.
Salut kepada penulis yang sanggup menempatkan kejujuran, kebebasan, keberanian dan kedamaian secara maksimal dalam kehidupannya, dan menuliskannya menjadi sebuah pembelajaran bagi para pembacanya.
Terus berkarya, terus maju dengan hidup dan keluarga kecilmu, karena Tuhan memberkatimu senantiasa
Apakah saya harus merasa beruntung karena dapat mengenal G. Lini Hanafiah sesaat sebelum membaca buku “My Life is an Open Book”? Atau malah sebaliknya, perjumpaanku dengan si penulis buku itu justeru mengurangi sensasi emosional yang semestinya bisa kureguk di setiap halaman bukunya?
Lini menulis layaknya sedang memegang kemudi bis kota rombeng jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu. Jangan harap Anda bakal diberi kesempatan untuk sejenak senyum-senyum kecil sambil memelototi deretan karyawati seksi yang sedang menunggu bis di sepanjang jalan Gatot Soebroto. Anda cuma penumpang di bis yang dia kendarai. Anda cumapembaca dari buku harian yang dia tulis. Biarkan saja Lini yang sopir itu mengumpat saat diperlakukan tidak adil oleh “polisi”di sepanjang perjalanan hidupnya. Dengarkan saja ocehan panjangnya dan jangan coba-coba Anda masuk apalagi memasukkan kata-kata sarkatisnya ke dalam benak Anda. Anda harus berada di luar Lini untuk bisa “menikmati” buku ini.
Baru saja didapat kabar dari distributor bahwa secara informal buku My Life is An Open Book dinyatakan habis di toko.
Bagi teman-teman yang belum sempat beli di toko, silakan pesan ke Marsel di alexanderhmarshall[at]gmail.com.
Matur tengkiyu sanget...
DONASI
Klik pada gambar untuk keterangan lebih lanjut.
bagi yang ingin berpartisipasi memasang banner Peduli Yuk Nulis, silakan isi form di bawah untuk mendapatkan kodenya.