Setelah saya merilis e-book “Yuk Nulis!”, saya nekat untuk membangun komunitasnya beberapa bulan lalu melalui milis dan blog Yuk Nulis!. Terkumpullah beberapa orang yang memiliki bakat terpendam.
Seiring berjalannya waktu, semakin semarak kehidupan di “rumah” Yuk Nulis!”. Saya merasa sudah waktunya untuk membuatkan tempat tambahan, yaitu page Yuk Nulis! di Facebook.
Sebentar saja, sudah memiliki fans begitu banyak. Luar biasa! Bahkan banyak yang bukan teman-teman saya. Semua ingin menulis. Pada semua orang yang minta diajari menulis, saya selalu menjawab, “Coba download e-book saya, nanti kita sharing di milis.”
Ternyata, entah bagaimana, beberapa orang itu kerap menanyakan ke Marsel, urusan direct selling, apakah bisa membeli buku “Yuk Nulis!”.
Sejak awal saya membuat, ide dasarnya adalah sekolah gratis. Maka saya buat e-book itu dengan bebas di-download tanpa batas waktu.
Kenapa tidak dicetak?
Dicetak itu butuh ongkos, maka pembaca harus mengganti ongkos cetak. Lalu ide sekolah gratis tidak lagi gratis karena pembaca harus merogoh koceknya.
Mohon maaf, sampai saat ini dan entah kapan, e-book “Yuk Nulis!” akan tetap menjadi e-book dan akan tetap gratis.
Silakan unduh e-booknya di sini.
Jangan sungkan untuk bergabung di Yuk Nulis!.
Lini, bukunya udah selesai dibaca. Two thumbs up, perasaan ngga baca buku cuma dengerin orang cerita aja. Kalau begitu kapan2 boleh dong jadi narasumber
Agustinus Kuntadi, Sukabumi
mbak Lini… akhirnya selesai juga buku My Life is An Open Book nya tadi pagi dibis ^ ^.. Commentnya buanyaaaakkk…yg pasti “very inspiring book” my thumbs aren’t enought to give
) Great!!
Maria Emmanuelle Atty Utomo, Salatiga
Just finished reading ur book yesterday.. Good one! Ur life full of adventure ya.. membuka pandangan tentang suatu kehidupan yang lain dan berbeda dari hidupku sendiri..
Christine Yuliana, Jakarta
Terima kasih buat Bobby ‘Jude’ Gunawan atas apresiasinya.
SEPUTAR FACEBOOK: G. Lini Hanafiah ‘Seorang yang Mensugesti’
Menulis, kegiatan yang bagi sebagian orang menyenangkan, bagi sebagian lagi menyulitkan. Sulit? Bagi mereka yang merasa sulit, biasanya karena tidak tahu harus mulai dari mana, bagaimana memulainya, dan apa yang harus ditulis. Ada juga yang merasa menulis itu butuh usaha ekstra atau tidak berbakat tetapi memiliki keinginan besar.
Kutipan diatas yang diambil dari Page-nya Mba Genevive Lini Hanafiah salah satu ‘profiler’ yang selalu aktif di Jejaring FACEBOOK yang memberikan gue dan mungkin kamu-kamu semua yang menyelami mengenai Mba Lini mengenai kerangka yang mendalam bagaimana merenungkan inspirasi kita dalam bidang tulis-menulis.
Read the rest of this entry »
Setelah membaca buku ini, aku melihat beberapa keterkaitan yang tak dapat dielakkan dalam kehidupan ini. Kejujuran, yang pada akhirnya melahirkan kebebasan, yang mau tidak mau mendatangkan konsekuensi, yang membutuhkan keberanian untuk menjalani kehidupan yang penuh kedamaian.
Salut kepada penulis yang sanggup menempatkan kejujuran, kebebasan, keberanian dan kedamaian secara maksimal dalam kehidupannya, dan menuliskannya menjadi sebuah pembelajaran bagi para pembacanya.
Terus berkarya, terus maju dengan hidup dan keluarga kecilmu, karena Tuhan memberkatimu senantiasa
San San Tjahaya
Bandung
MY LIFE IS TO OPEN MY BO(R)OK
Review buku:
Judul: “My Life is an Open Book”
Penulis: G. Lini Hanafiah
Apakah saya harus merasa beruntung karena dapat mengenal G. Lini Hanafiah sesaat sebelum membaca buku “My Life is an Open Book”? Atau malah sebaliknya, perjumpaanku dengan si penulis buku itu justeru mengurangi sensasi emosional yang semestinya bisa kureguk di setiap halaman bukunya?
Lini menulis layaknya sedang memegang kemudi bis kota rombeng jurusan Tanah Abang-Pasar Minggu. Jangan harap Anda bakal diberi kesempatan untuk sejenak senyum-senyum kecil sambil memelototi deretan karyawati seksi yang sedang menunggu bis di sepanjang jalan Gatot Soebroto. Anda cuma penumpang di bis yang dia kendarai. Anda cumapembaca dari buku harian yang dia tulis. Biarkan saja Lini yang sopir itu mengumpat saat diperlakukan tidak adil oleh “polisi”di sepanjang perjalanan hidupnya. Dengarkan saja ocehan panjangnya dan jangan coba-coba Anda masuk apalagi memasukkan kata-kata sarkatisnya ke dalam benak Anda. Anda harus berada di luar Lini untuk bisa “menikmati” buku ini.
Read the rest of this entry »
Aku sempat merenung saat membaca kisahmu dan mengingatkan diriku pada buku diaryku.
Dalam diary itu, aku tampil apa adanya…..semua aku tumpahkan rasa kesal, marah, malu, semua perasaan….tanpa takut bahwa aku tampil tidak orisinil. Aku tampil sebagai dirku sendiri dan hanya ada ALLAH dan diriku (yang adalah Citra-NYA)…….Betapa aku menemukan suatu pembebasan saat mencoretkan perasaanku yang paling jujur kepada buku itu.
Aku merasa semua orang yang memiliki buku diary merasakan apa yang aku rasakan. Namun, hidup ku terasa berbeda bila tampil di dunia yang nyata……..bukan dunia buku diary ku. Banyak hal yang hendak aku tutupi bila bertemu dengan orang lain. Mungkin kadarnya berbeda-beda terhadap satu orang dengan orang yang lain. Semakin aku akrab dengan sahabat, aku makin bisa tampil jujur. Akan tetapi, bila berjumpa dengan orang yang tidak aku kenal atau orang yang tidak aku sukai, aku cenderung berusaha menutup-nutupinya. Muncullah rasa tidak aman dengan diriku sendiri………aku kehilangan kebebasanku. Orang bisa saja memperdebatkan makna kebebasan, namun bagiku berekspresi itu penting. Apakah itu akan melukai perasan orang lain, bagiku lalu menjadi semua harus dikembalikan pada perspektif yang berbeda. Bila ada yang tersinggung dengan tulisanku, itu berarti orang tersebut ketidaksiapan menerima perbedaan pandangan. Ada banyak perspektif terhadap satu pengalaman yang sama, sebab itu tergantung pada pengalaman yang membentuk setiap orang.
Read the rest of this entry »